Dari Balik Dinding Wisma Atlet, Cerita Satu Keluarga Positif Covid-19

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung RSDC Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Rabu, 16 Juni 2021. Pengelola RS ini telah menambah 1.400 tempat tidur untuk mengantisipasi lonjakan kasus. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Gedung RSDC Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Rabu, 16 Juni 2021. Pengelola RS ini telah menambah 1.400 tempat tidur untuk mengantisipasi lonjakan kasus. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Santi bersama suami dan kedua anaknya berangkat ke Wisma Atlet Pademangan pada Kamis sore, usai hasil tes swab menunjukkan mereka positif Covid-19. Santi  sekeluarga memutuskan untuk di-Swab setelah ada gejala demam, tak bisa mencium aroma dan mengecap rasa dalam beberapa hari terakhir.

    Pada Kamis sore, setelah menunggu beberapa saat di Puskesmas Senen, Jakarta Pusat, Santi menumpang mobil ambulans bersama suami dan dua anaknya menuju Wisma Atlet. Ia hanya membawa pakaian seadanya untuk mereka berempat dalam 2 koper.

    “Kami memutuskan untuk isolasi mandiri di Wisma Atlet karena pertimbangan ada dokter yang siap siaga di sana. Rumah sakit swasta pun juga sudah penuh,” kata karyawan swasta itu pada Tempo, Jumat, 18 Juni 2021.

    Petugas medis melapor kepada petugas saat mengantar pasien Covid-19 ke RSDC Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Rabu, 16 Juni 2021. Total kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 1.937.652 sejak pertama kali diumumkan pada awal Maret 2020. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    ADVERTISEMENT

    Sesampainya di Wisma Atlet Pademangan pukul 18.30, perempuan berusia 43 tahun ini bergegas mengurus registrasi dengan berbekal surat rujukan dari kecamatan Senen. Meski kepayahan mengatur napas, akhirnya ia diterima oleh petugas administrasi dan diminta menunggu.

    Meski sudah dibekali surat rujukan, Santi dan suami masih menunggu kepastian bisa atau tidaknya diterima untuk isolasi mandiri di sana. Ruangan tunggu yang ber-AC tak lagi berasa sejuk karena saking banyaknya pasien yang juga tengah menunggu namanya dipanggil untuk ditangani.

    Pasien-pasien yang sudah didiagnosis positif Covid-19 itu ada yang menduduki bangku tunggu, tapi tak jarang lesehan di lantai. Karena memang kondisi sangat ramai, tapi jumlah kursi tak memadai. Para pasien, tenaga kesehatan dan petugas silih berganti lalu lalang.

    "Suasana panas sekali, blower pendingin ruangan juga gak berasa sama sekali," kata Santi.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.