Lekas: Eks Pekerja Seks Banyak Kembali ke Kegiatannya Semula karena Wabah

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pekerja Seks Komersial (PSK). starsexwork.org

    Ilustrasi Pekerja Seks Komersial (PSK). starsexwork.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Yayasan Lembaga Kajian Strategi (Lekas), Muksin ZA, mengatakan banyak pekerja seks yang mengeluh karena selama pandemi ini secara ekonomi mereka merosot dan minim pemasukan. "Sudah ada beberapa yang kami bina dan beralih pekerjaan, jadi penjahit dan pedagang," kata Muksin kepada Tempo di kantornya, Ciawi. Sabtu, 25 September 2021. Tapi pandemi juga menggerus usaha mereka, sehingga akhirnya ada juga yang kembali ke pekerjaan semula.

    "Ya, mau gimana?" Lekas hanya bisa menerima keluhan. "Karena itu kan bersentuhan dengan kebutuhan mereka," kata Muksin.  

    Muksin mengatakan meski persoalan sosial dan pekerja seks, transgender dan lainnya adalah tanggung jawab pemerintah, selama ini pembinaan dilakukan oleh yayasan dan beberapa anggota yayasan secara swadaya. Artinya, Yayasan Lekas belum menjalin kerjasama yang signifikan dengan pemerintah untuk menanggulangi prostitusi.  

    "Sejauh ini hanya (Lekas hanya) diminta mengirimkan peserta jika ada kegiatan pelatihan atau pembinaan di Dinas Sosial." Selebihnya Yayasan Lekas membina langsung para pekerja seks. Namun, ia berharap ada kerjasama yang terjalin baik dengan Pemerintah. "Khususnya pemerintah daerah," kata Muksin.  

    Wabah berdampak pada perekonomian dan pendapatan pekerja seks. Meski terdampak, data dan hasil monitoring Lekas menyebut selama pandemi Covid ini juga ada penambahan pekerja seks baru di Bogor.  

    Mayoritas, alasannya karena ekonomi. "Tentu pandemi ini juga memberikan dampak pada pekerja seks, tapi ada juga yang baru muncul." Pendatang baru ini rata-rata berusia produktif.

    Baca: Anomali Pandemi Covid, Temuan Lekas Soal PSK Bogor: Terdampak tapi Bertambah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro - Kontra Syarat Tes PCR Covid-19 untuk Penerbangan Jawa - Bali

    Syarat terbaru naik transportasi udara antara lain wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR. Kebijakan ini dinilai menyulitkan tak hanya penumpang.