Anggota Paspampres Akui Terima Pisau  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tersangka kasus pembunuhan Raafi Aga Winasya Benjamin, saat gelar barang bukti di Polres Jakarta Selatan (5/12). TEMPO/Amston Probel

    Sejumlah tersangka kasus pembunuhan Raafi Aga Winasya Benjamin, saat gelar barang bukti di Polres Jakarta Selatan (5/12). TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Kopral Dua Sanuri sudah aktif kembali sebagai anggota Pasukan Pengamanan Presiden. Padahal dia sebelumnya mengaku menerima pisau dengan bercak darah Raafi Aga Winasya Benjamin, pelajar SMA Pangudi Luhur yang tewas dalam perkelahian di Shy Rooftop, Kemang, Jakarta Selatan, awal November lalu.

    Asisten Intelijen Pasukan Pengamanan Presiden Letnan Kolonel (Inf) Edmil Nurjamil mengatakan, saat perkelahian terjadi, sang kopral berada di lantai dasar. Dia naik ke atas (Rooftop) setelah dihubungi Roby Syarief Hatim, satu di antara enam tersangka pengeroyok Raafi.

    Dalam suasana gelap dan ramai, Sanuri mendekat ke arah Sher Mohammad Febri Awan, rekan Roby yang telah ditetapkan polisi sebagai tersangka tunggal penusukan. Saat itu Febri menitipkan sebuah barang dan ia diminta kembali turun ke bawah. "Saat naik lift dan kondisi terang, baru disadari bahwa barang yang dititipkan adalah pisau yang ada bercak darah," kata Edmil, Selasa malam lalu.

    Edmil menambahkan, Sanuri dikembalikan ke kesatuannya per Selasa lalu sambil menunggu proses hukum yang berjalan. Berdasarkan pemeriksaan internal, Sanuri telah dinyatakan lolos dari sanksi.

    Dihubungi terpisah, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, kembali menegaskan tidak akan ada penambahan tersangka. "Fakta hukumnya, dia (Sanuri) memang sebagai saksi, bukan tersangka," kata Budi kemarin.

    Budi menegaskan, sampai saat ini, tidak ada pasal yang bisa menjerat Sanuri sebagai tersangka. Sanuri dianggap tidak sengaja membantu menyembunyikan barang bukti pembunuhan.

    Pisau yang dimaksud itu juga disebutkan telah dikembalikan Sanuri kepada Febri. "Dari apa yang kami selidiki, Sanuri bukan tersangka. Di luar itu, bukan wewenang kami," ujar Budi.

    Sebelumnya, Febri berusaha menambah keterangannya dalam berita acara pemeriksaan. Dia mengungkap peran Sanuri yang disebutnya berkata kepadanya telah menyabet-nyabet seseorang setelah perkelahian di Shy Rooftop. "Ada kata-kata 'Sudah gua sabet-sabet'", kata Endi Martono, kuasa hukum Febri.

    ARYANI KRISTANTI | ELLIZA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.