Afriyani 'Xenia Maut' Mengaku Masih Depresi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka Afriyani (kiri) bersama tiga temannya saat menjalani reka ulang kecelakan maut di lokasi kecelakaan halte Tugu Tani, Jakarta, Sabtu (18/2). ANTARA/M Agung Rajasa

    Tersangka Afriyani (kiri) bersama tiga temannya saat menjalani reka ulang kecelakan maut di lokasi kecelakaan halte Tugu Tani, Jakarta, Sabtu (18/2). ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta -- Pengemudi mobil Xenia, Afriyani Susanti, 29 tahun, mengaku masih depresi akibat kecelakaan pada Minggu, 22 Januari 2012 lalu. Kecelakaan itu menewaskan sembilan pejalan kaki di Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat.

    "Dia masih depresi akibat hujatan masyarakat," kata Efrizal, pengacara Afriyani, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 26 April 2012. "Selama dua hari ini, saya menemui dia untuk mempersiapkan mentalnya."

    Menurut Efrizal, Afriyani siap menerima hukuman penjara berapa pun lamanya. Sementara itu, sidang perdana Afriyani dijadwalkan mulai pukul 12.00 WIB dan dipimpin oleh hakim ketua Antonius Widyatono.

    Afriyani dituntut Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara dan Pasal 311 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara atas kelalaiannya mengemudi sehingga menabrak 12 orang dan sembilan di antaranya meninggal dunia.

    WDA | ANT

    Berita terkait
    Afriyani 'Xenia Maut' Jalani Sidang Perdana
    Sopir Xenia Maut dan Pasal Pembunuhan Disengaja
    Laju Mobil Xenia Afriyani Susanti versi Roy Suryo

    Afriyani Dikenal Tomboy Saat SMA

    Pak RT Pusing Ditanyai Kecelakaan Maut Afriyani

    Ibu Afriyani Susanti Masih Syok

    Sopir Xenia Maut Cs Diperiksakan ke RSKO

    Polisi Masih Buru Penjual Ekstasi Xenia Maut

    Berkas Xenia Maut Secepatnya Dilimpahkan ke Pengadilan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.