Kamis, 17 Agustus 2017

Ditelan, Taktik Mutakhir Selundupkan Berlian

Kamis, 23 Oktober 2008 | 15:03 WIB

.

TEMPO Interaktif, Tangerang: Bea dan Cukai Bandar Udara Soekarno-Hatta mengungkapkan, modus baru penyelundupan berlian dengan cara ditelan. Cara ini dilakukan oleh warga India jaringan sindikat perhiasan di Asia. "Ini modus baru yang kami temukan," ungkap Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea dan Cukai Soekarno Hatta, Eko Darmanto, kepada Tempo, Kamis (23/10).

Menurut Eko, pebisnis berlian memakai  cara itu karena taktik lain sudah diendus petugas Bea  dan Cukai. Apalagi mafia perhiasan mulai frustrasi karena sulit menembus penjagaan Bandar Soekarno-Hatta. "Mafia melakukan berbagai cara untuk menghindari pajak bea masuk, terutama dari India, Cina, dan Hong Kong" kata Eko. 'Kebetulan kami menangkap orang India."

Berlian yang beredar dipasaran, menurut Eko, saat ini banyak yang ilegal. Upaya penyelundupan melalui Bandar Udara  Soekarno-Hatta selain dimasukkan dalam  tas, juga  ditelan. Cara ini sebelumnya banyak digunakan dalam penyelundupan narkoba.

Warga India yang ditangkap berinisial SH, 45 tahun. Berangkat dari Kuala Lumpur naik  Air Asia dengan nomor penerbangan AK 952. Aparat mencurigai  SH ketika keluar dari pesawat dan menuju pintu pemeriksaan. Saat diperiksa dengan mesin X Ray dan Rontgen terlihat barang aneh berada di dalam perut pelaku. "Barang aneh itu ternyata berlian," kata Eko.

Berlian di dalam perut SH lantas dikeluarkan di Rumah Sakit Usada Insani Tangerang. Proses pengeluarannya  30 menit. Paket berlian yang ditelan dibungkus dengan karet latek yang terbagi dalam lima  bagian kecil. Setiap paket terdapat ratusan butir berlian berkilauan.

Joniansyah


Grafis

Asgardia, Negera Luar Angkasa Pertama, Segera Dibangun

Asgardia, Negera Luar Angkasa Pertama, Segera Dibangun

Sejak diumumkan pada Oktober tahun lalu, lebih dari 280 ribu orang mendaftar menjadi warga negara luar angkasa Asgardia. Proyek mimpi yang sarat kontroversi. Meski masih berupa konsep, Asgardia kini tengah menghimpun 100 ribu pendukung konstitusinya untuk mendaftarkan status negara itu ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.