Kekerasan ala Duel Gladiator Bukan Hanya Terjadi di Bogor

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Yohana Yambise saat menghadiri Forum Anak Nasional di Pekanbaru. TEMPO/Riyan Nofitra

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Yohana Yambise saat menghadiri Forum Anak Nasional di Pekanbaru. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus kekerasan pelajar ala duel gladiator ternyata bukan hanya terjadi di Kota Bogor. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise, kasus serupa ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Anak-anak melakukan kekerasan di sekolah karena meniru perilaku yang mereka lihat di lingkungan terdekat, termasuk keluarga. "Kekerasan fisik masih sering terjadi di rumah tangga. Itu yang dicontoh anak-anak," ujar Yohana, Jumat, 22 September 2017.

    Yohana mengatakan saat ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah menggodok kebijakan khusus untuk melindungi anak-anak dari kekerasan, baik di sekolah maupun di lingkungan lain. "Kita harus memutus rantai kekerasan," ujar Yohana. Namun ia tak merinci apa saja isi kebijakan khusus tersebut.
     
    Kekerasan pelajar yang terjadi di Bogor telah menewaskan Hilarius Christian Evant Raharjo, siswa kelas X SMA Budi Mulia. Hilarius dipaksa para seniornya untuk berkelahi satu lawan satu dengan pelajar dari sekolah tetangga, SMA Mardi Yuana. Duel itu diselubungi dengan pertandingan basket di lapangan Taman Palupuh di perumahan Vila Citra, Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Hilarius meninggal pada 29 Januari 2017.

    Kasus ini kembali mencuat setelah “curahan hati” ibunda korban, Maria Agnes, viral di media sosial. Maria menjelaskan, berdasarkan informasi yang ia terima, duel ala gladiator yang diberi nama "bom-boman" itu menjadi tradisi tahunan yang digelar para senior dan alumnus SMA Budi Mulia dan SMA Mardi Yuana.

    Venansius Raharjo, ayah almarhum Hilarius, menerangkan, kala kasus duel maut ini terjadi, keluarga tak melapor ke polisi karena tidak mau jasad Christian diautopsi. "Tapi sekarang saya ingin kasus ini ditangani, karena pelaku satu pun tidak ada yang dihukum,” ujarnya.

    Polisi telah menetapkan empat tersangka dalam kasus duel maut ini. Rabu lalu, polisi meringkus satu orang tersangka setelah menjemput tiga orang dari beberapa kota. Tersangka keempat itu, yang berinisial Tb, merupakan kakak kelas Hilarius. Dialah yang memerintahkan korban berlaga dalam duel "bom-boman" melawan pelajar dari SMA Mardi Yuana.  

    Satu tersangka merupakan eksekutor atau lawan korban dalam duel ala gladiator tersebut. Adapun dua lainnya berperan sebagai promotor dan wasit. "Kami masih memburu satu tersangka lainnya," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bogor Komisaris Ahmad Choiruddin.

    CHITRA PARAMAESTI | SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.