Selasa, 11 Desember 2018

Keluarga Dokter Letty Emoh Membagi Harta Gono-gini untuk Helmi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana berkabung di rumah duka dokter Letty Sultri di Jakarta, 10 November 2017. Helmi yang berniat rujuk dengan Dokter Letty dijawab dengan penolakan lalu menembak istrinya hingga tewas. TEMPO/Ilham Fikri

    Suasana berkabung di rumah duka dokter Letty Sultri di Jakarta, 10 November 2017. Helmi yang berniat rujuk dengan Dokter Letty dijawab dengan penolakan lalu menembak istrinya hingga tewas. TEMPO/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Keluarga dokter Letty tidak akan membagikan harta gono-gini untuk dokter Ryan Helmi, 41 tahun, pembunuh istrinya sendiri. Seusai pra-rekonstruksi kasus penembakan dokter terhadap istrinya itu, Senin, 13 November 2017, di klinik Azzahra Medical Centre, Cawang, kakak ipar Letty, Yeti Irma, mengatakan Helmi  tak pernah menafkahi korban.

    Yeti mengatakan, setelah perkara pidana selesai nanti, keluarga dokter Letty tidak akan memberikan harta apa pun kepada tersangka. “Enggak ada harta gono-gini. Tersangka ini tidak pernah memberikan gaji, kerja pun enggak,” katanya. 

    Menurut Yeti, harta korban, seperti mobil dan emas, yang kabarnya telah dijual tersangka, merupakan hasil kerja dokter Letty. Harta itu telah dimiliki dokter Letty sebelum menikah dengan Ryan.

    Baca: Dokter Tembak Istri Pernah Aniaya Dokter Letty ala SmackDown

    Ketua tim kuasa hukum keluarga Letty, Ori Rahman, menuturkan, selama lima tahun pernikahan, dokter Letty dan dokter Ryan tidak punya harta bersama. "Adanya harta bawaan, termasuk mobil yang sekarang ini sudah dijual,” ujarnya.

    Sebelumnya, tersangka Ryan mengaku telah membawa kabur dan menjual mobil milik istrinya, Letty. Hasil penjualan mobil tersebut diduga digunakan Ryan untuk membeli dua pucuk senjata api, yang ia gunakan untuk membunuh dokter Letty.

    ZUL’AINI FI’ID N. | TD


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.