Minggu, 18 November 2018

Tabur Bunga Lion Air, Keluarga Korban: Aku Masih Ingin di Sini

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Tanjung Pakis, Karawang, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan

    Suasana tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Tanjung Pakis, Karawang, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Isak tangis keluarga korban pecah ketika kapal TNI AL yang membawa keluarga korban tiba di titik lokasi pesawat Lion Air JT 610 jatuh di Tanjung Karawang, hari ini.

    Baca: Evakuasi Lion Air, Penyelam Disarankan Ikut Terapi Hiperbarik   

    "Aku masih ingin di sini. Aku masih ingin di sini," kata seorang keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 sambil menangis di buritan KRI Banjarmasin-592, Selasa 6 November 2018. 

    Didampingi relawan Palang Merah Indonesia (PMI), perempuan itu tidak kuasa menahan tangis di lokasi pesawat jatuh. "Pasti ditemukan, hanya masalah waktu saja," kata seorang laki-laki kepada perempuan itu.

    Mereka berjalan berpelukan menuju buritan kapal untuk mendoakan keluarga yang menjadi korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610.

    Banyak keluarga korban kecelakaan pesawat yang mengangkut 189 penumpang dan awak tersebut tidak kuasa menahan nangis, ketika panitia doa bersama dan tabur bunga menyatakan bahwa mereka berada di lokasi pesawat jatuh. Beberapa orang pingsan karena tidak kuasa menahan kesedihan.

    Suasana tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Tanjung Pakis, Karawang, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan

    Namun sebagian memilih menaburkan bunga di laut dalam diam, dengan tatapan mata menerawang ke arah laut lepas.

    Komando Armada I TNI Angkatan Laut mengerahkan dua kapal, yaitu KRI Banjarmasin-592 dan KRI Banda Aceh-593 untuk mengantar keluarga korban untuk tabur bunga dan doa bersama di lokasi pesawat jatuh. Kapal berangkat dari dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok.

    Dalam perjalanan menuju lokasi pesawat jatuh, di atas KRI Banjarmasin-592, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Muhammad Syaugi sempat berdialog dengan keluarga korban.

    "Kami tetap berusaha mencari sekuat tenaga. Insya Allah. Pasti akan ditemukan," kata Syaugi kepada salah satu keluarga korban.

    Syaugi menyampaikan dukanya dan memanjatkan doa agar penumpang Lion Air JT 610 diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan.

    Syaugi juga meminta keluarga korban untuk mendoakan tim pencarian dan pertolongan gabungan agar diberi kekuatan dalam melakukan pencarian korban.

    Beberapa keluarga korban yang sempat berdialog menyampaikan doa sebagaimana diminta Syaugi. "Aamiin. Kita saling mendoakan," kata marsekal TNI berbintang tiga itu.

    Kepada keluarga korban, Syaugi mengatakan tugas utama tim pencarian dan pertolongan adalah mengevakuasi korban, bukan yang lain.

    Suasana tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Tanjung Pakis, Karawang, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan

    Bila dalam proses pencarian dan evakuasi tim menemukan hal-hal lain berkaitan dengan kecelakaan tersebut, maka juga akan diambil. 

    "Sampai dengan kemarin, sudah ada 164 kantong jenazah yang ditemukan. Saya akan maksimalkan terus. Insya Allah hari ini akan ditemukan lagi," katanya.

    Tentang badan pesawat yang belum ditemukan, Syaugi mengatakan selama ini tim pencarian dan pertolongan memang belum menemukan.

    Pencarian telah dipersempit pada lingkar 250 meter karena di luar itu sudah tidak lagi ditemukan serpihan atau potongan badan pesawat.

    "Kalau memang ditemukan, pasti akan kita ambil," ujarnya.

    Perjalanan menuju lokasi pesawat jatuh memakan waktu kurang lebih dua jam. Sekitar 10 menit sebelum sampai di lokasi, Syaugi menyampaikan sambutan dan menyampaikan tentang operasi pencarian.

    Menurut Syaugi, pencarian telah diperpanjang hingga Rabu, 7 November  2018. Akan ada evaluasi dan analisis sebelum proses pencarian dinyatakan diteruskan atau akan dihentikan.

    "Akan kami evaluasi dan analisis apakah ada kemungkinan korban masih bisa ditemukan. Kalau masih ada kemungkinan, akan diperpanjang," katanya.

    Sebelum menuju buritan kapal untuk tabur bunga, keluarga korban memanjatkan doa bersama dipimpin para perwira rohani TNI dalam lima agama secara bergantian. Tangis keluarga korban Lion Air JT 610 sudah mulai pecah saat doa dipanjatkan.

    Suasana tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Tanjung Pakis, Karawang, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan

    Di atas buritan KRI Banjarmasin-592, Syaugi memberikan keterangan kepada wartawan. Tujuan mengajak keluarga korban ke lokasi pesawat jatuh adalah agar mereka bisa mendoakan penumpang yang menjadi korban lebih dekat.

    Selain itu, memberikan kesempatan kepada keluarga korban untuk melihat langsung proses pencarian dan pertolongan yang dilakukan tim gabungan.

    Baca: RS Polri Telah Serahkan 27 Jenazah Korban Lion Air ke Keluarga

    Saat itu, di lokasi memang masih terdapat beberapa kapal pencarian dan pertolongan korban kecelakaan pesawat tersebut. "Tim pencarian dan pertolongan serius dalam mencari korban. Kami tidak main-main," katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.