Stasiun Melayang MRT Terintegrasi dengan Pasar Blok M

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengamati gerbong kereta saat meninjau pembangunan depo MRT di Lebak Bulus, Jakarta, Ahad, 1 Juli 2018. Fase pertama itu terdiri atas 13 stasiun yang menghubungkan Lebak Bulus hingga Bundaran HI. TEMPO/M. Taufan Rengganis.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengamati gerbong kereta saat meninjau pembangunan depo MRT di Lebak Bulus, Jakarta, Ahad, 1 Juli 2018. Fase pertama itu terdiri atas 13 stasiun yang menghubungkan Lebak Bulus hingga Bundaran HI. TEMPO/M. Taufan Rengganis.

    TEMPO.CO, Jakarta - Stasiun layang MRT Jakarta akan berada 15 meter di atas permukaan tanah. Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin menjamin masyarakat tak akan kesulitan untuk mencapai Stasiun MRT itu karena disediakan eskalator dan lift. 

    Baca: MRT Jakarta Targetkan 65 Ribu Penumpang Per Hari

    "Di Stasiun layang MRT nanti tangganya akan disediakan eskalator dan ada lift untuk membantu yang disabilitas," ujar Kamaluddin saat ditemui di Taman Duku Atas, Jakarta Pusat, Ahad, 13 Januari 2019. 

    Kamaluddin mengatakan stasiun melayang akan memiliki skybridge dan skydeck yang langsung terhubung dengan gedung-gedung sekitarnya, seperti misalnya pusat perbelanjaan dan pasar. Konsep itu dapat terlihat di Stasiun Blok M yang langsung terhubung dengan pusat perbelanjaan di sana. 

    Stasiun layang MRT juga akan terhubung langsung dengan moda transportasi lainnya. Seperti misalnya di Stasiun Sisingamaraja yang memiliki akses langsung dengan halte Transjakarta, sehingga nantinya memudahkan masyarakat berpindah moda transportasi. 

    "Jadi stasiun melayang MRT bukan menjadi satu struktur yang terpisah dari gedung-gedung sekitarnya," kata Kamaluddin. 

    Sebelumnya masyarakat sempat khawatir nasib stasiun melayang MRT akan sama seperti halte Koridor 13 Transjakarta. Halte bus tersebut berada di atas jembatan layang dan sulit diakses oleh masyarakat karena hanya beberapa saja yang memiliki eskalator dan lift. 

    "Cuma yang di halte CSW yang saya tahu ada lift dan eskalatornya, sisanya naik tangga tinggi banget," ujar Nursita, salah seorang pengguna bus Transjakarta. 

    Selain itu, Koridor 13 juga tak terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahkan mengatakan koridor 13 sebagai contoh sempurna moda transportasi tak terintegrasi, karena jauh dari stasiun kereta dan MRT. 

    Baca: Transjakarta, MRT, LRT Jakarta Bahas Integrasi Kartu Penumpang

    Hal-hal seperti itu, kata Kamaluddin, tak akan ditemui di MRT karena pihaknya telah menyiapkan integrasi dan kemudahan bagi masyarakat menggunakan kereta cepat yang dinamai Ratangga itu. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.