Istri Rahman Tolleng: Bapak Sempat Menyerah karena Penyakitnya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Angkatan 1966, Rahman Tolleng. TEMPO/Nita Dian

    Aktivis Angkatan 1966, Rahman Tolleng. TEMPO/Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Istri Rahman Tolleng, Tati Rahman, mengenang perjuangan suaminya melawan penyakit komplikasi. Rahman wafat pada hari ini, Selasa, 29 Januari 2019.

    "Bapak sudah lama sakit dan sampai mau menyerah," kata Tati saat ditemui di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat. Menurut dia, tokoh penggerak lahirnya Forum Demokrasi itu telah mengidap sejumlah penyakit selama belasan tahun.

    Baca: Tokoh Pergerakan Rahman Tolleng Meninggal Karena Sakit

    Rahman menderita sakit komplikasi gagal ginjal, jantung dan gula. Beberapa tahun terakhir, Rahman Tolleng bahkan mengeluh letih dengan penyakitnya. Semangat hidupnya sempat menurun.

    Tati mengatakan Rahman bahkan sempat mengajaknya meninggal bersama. "Kan kita sudah tua, meninggal bareng saja atau bagaimana," kata Tati menirukan almarhum suaminya.

    Penyakit Rahman diakui istrinya kambuh-kambuhan. Sebelum meninggal, penggerak lahirnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) itu sempat mengeluh sesak napas. Ia lalu dilarikan ke Rumah Sakit Omni, Jakarta. Namun lantaran tak ada ICU kosong, ia dilarikan ke RS Abdi Waluyo.

    Baca: Jejak Aktivis Demokrasi Rahman Tolleng di Bidang Politik

    Rahman Tolleng mengembuskan napas terakhir pada pukul 05.25 WIB didampingi istri, dua anak, dan tiga cucunya. Sejumlah kerabat Rahman melayat pada Selasa pagi. Di antaranya Menteri Lingkungan Hidup Kabinet Persatuan Nasional, Sarwono Kusumaatmadja dan Menteri Lingkungan Hidup Kabinet Indonesia Bersatu, Rachmat Witoelar. Jenazah Rahman disemayamkan di Jakarta dan akan dimakamkan di Ciburial, Bandung, siang ini.

    Rahman merupakan aktivis dan politikus pada masa Orde Baru. Ia melenggang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada era pemerintahan Soeharto. Ia pernah didapuk sebaga Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya yang berkiblat pada Partai Golkar.

    Selain itu, mendiang turut menjadi pelopor lahirnya Forum Demokrasi atau Fordem. Fordem merupakan kelompok penggerak majunya Abdurrahman Wahid alias Gusdur sebagai Presiden RI. Selain berkecimpung di politik, Rahman Tolleng aktif sebagai Direktur Penerbitan PT Pustaka Utama Grafiti pada 1991 hingga 2006.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.