Nissa Sabyan Batal di Kampanye Akbar Prabowo, Ini Penyebabnya

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto berbincang dengan vokalis group musik Gambus Sabyan, Nissa Sabyan di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Maret 2019. Dok Istimewa

    Calon Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto berbincang dengan vokalis group musik Gambus Sabyan, Nissa Sabyan di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Maret 2019. Dok Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dian Fatwa, mengakui penyanyi gambus Nissa Sabyan batal tampil dalam kampanye akbar Prabowo Subianto di Gelora Bung Karno pada Ahad, 7 April 2019.

    Baca juga: KPU DKI: Pemilih Pemula Manfaatkan Rekam E-KTP Sabtu-Ahad

    Namun, kata Dian, ketidakhadiran Nissa Sabyan bukan tanpa alasan. "Karena Nissa Sabyan ke Medan, di kampanye Sandiaga Uno di sana," ujar juru bicara BPN, Dian Fatwa saat dihubungi, Senin 8 April 2019. 

    Menurut Dian, Nissa Sabyan sudah di Medan, Sumatera Utara, sehari sebelum acara untuk mempersiapkan hal teknis menjelang tampil dalam kampanye Sandiaga Uno di acara Young Entrepreneur Summit (YES). 

    Sandiaga bertolak ke Medan setelah paginya ikut dalam kampanye akbar di Gelora Bung Karno. Sedangkan Nissa Sabyan yang dijadwalkan bernyanyi dalam acara tersebut batal hadir.

    Usai kampanye di Medan, Sandiaga pun menggugah video di akun pribadi Twitternya, dalam video itu tampak Sandiaga ikut bernyanyi bersama Nissa Sabyan di di atas panggung. 

    Baca juga: Siswa Penari Ratoh Jaroe Kecewa Kampanye Akbar Prabowo, Kenapa?

    Sehari sebelumnya, Nissa Sabyan dijadwalkan akan memeriahkan dan menghibur dalam kampanye akbar Prabowo-Sandi di Stadion Utama GBK Senayan, Ahad pagi 7 April 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.