Ani Hasibuan Sangkal Racun dan Pembantaian KPPS, Ini Jawab Polisi

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akun Umi Saheera mengunggah sejumlah tangkapan layar situs media dan media sosial, disertai dengan narasi yang menuduh pemerintah melakukan pembantaian massal.

    Akun Umi Saheera mengunggah sejumlah tangkapan layar situs media dan media sosial, disertai dengan narasi yang menuduh pemerintah melakukan pembantaian massal.

    TEMPO.CO, Jakarta - Polda Metro Jaya menyatakan memberi ruang kepada Robiah Khairani Hasibuan atau lebih dikenal sebagai Dr Ani Hasibuan untuk mengklarifikasi isi artikel yang membuatnya menjadi obyek penyidikan polisi. Artikel yang dimaksud berjudul 'Dr. Ani Hasibuan SpS: Pembantaian Pemilu, Gugurnya 573 KPPS' dalam portal berita tamshnews.com.

    Baca:
    Ratusan Petugas KPPS Gugur, Ani Hasibuan Akan Gugat Media Ini

    "Pastilah diberi ruang klarifikasi. Biar pun terlapor kan tetap punya hak, dan kami hargai hak-hak itu," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iwan Kurniawan, di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat malam, 17 Mei 2019.

    Sebelumnya, Ani yang merupakan dokter spesialis syaraf membantah isi artikel di portal berita itu. Lewat kuasa hukumnya, Ani menyatakan tidak pernah memberi keterangan terkait 'Pembantaian KPPS di Pemilu' seperti dalam isi berita yang ditayangkan tamshnews.com 12 Mei lalu tersebut.

    "Itu bukanlah pernyataan dari klien kami. Tapi media portal ini melakukan framing dan mengambil statement dari pernyataan beliau ketika wawancara di TvOne," ujar Amin Fahrudin, kuasa hukum Ani, kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Jumat siang.

    Selain itu, Amin juga membantah kliennya pernah menyampaikan kalau kematian ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) akibat senyawa kimia. Menurut Amin, kata racun pertama kali disinggung saat Ani bersama beberapa kelompok pemerhati pemilu lainnya tengah berdiskusi dengan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah.

    Baca juga:
    Petugas KPPS Meninggal, Ini Alasan Polisi Periksa Dr Ani Hasibuan

    “Memang ada kelompok lain atau pelapor yang menyinggung soal racun tapi itu bukan statement dari Bu Ani,” kata dia.

    Amin Fakhrudin, pengacara Dr Ani Hasibuan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, 17 Mei 2019. TEMPO/Adam Prireza

    Iwan menanggapinya dengan mengatakan bahwa sanggahan tersebut bisa dibuktikan saat pemeriksaan Ani. Sang dokter sejatinya menjalaninya Jumat tapi meminta penjadwalan ulang dengan alasan sedang sakit. 

    Berdasarkan surat pemanggilan bernomor S.Pgl/1158/V/RES.2.5./2019/Dit Reskrimsus, Ani diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) dan/atau menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong.

    Baca:
    Soal KPPS Meninggal, Dr Ani Hasibuan Bantah Pernah Sebut Senyawa Kimia

    "Ya nanti coba buktikan saja ya. Kan kami juga akan periksa saksi-saksi dan alat bukti, akan kita kumpulkan, kita analisis dan kita konsultasikan ke saksi ahli, ya nanti kita lihat saja," ujar Iwan.

    Yang jelas, Iwan menambahkan, penyidik sudah menemukan unsur pidana dan menetapkan penanganan kasus pernyataan Ani Hasibuan naik ke tahap penyidikan. "Untuk pemanggilan selanjutnya kami koordinasikan dulu," ujar Iwan menambahkan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.