Polisi Tangkap 2 Tersangka Baru Tawuran di Tanah Abang

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tawuran. TEMPO/M. Iqbal Ichsan

    Ilustrasi tawuran. TEMPO/M. Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Polres Metro Jakarta Pusat kembali menangkap dua orang yang terlibat dalam tawuran di Tanah Abang yang terekam membawa senjata tajam pada akhir Oktober 2019 lalu.

    "Polres Jakarta Pusat pada hari ini telah berhasil mengungkap aksi kekerasan di area publik yang beberapa waktu lalu sempat viral di Tanah Abang," kata Wakil Kapolres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Polisi Susatyo Purnomo di Polres Metro Jakarta Pusat, Rabu, 6 November 2019.

    Susatyo menyebutkan selain dua orang tersangka berinisial HD, 34 tahun dan FZ, 34 tahun. Polisi terlebih dahulu menangkap tiga orang berinisial MFR, 38 tahun; DF, 47 tahun, dan HR, 32 tahun.

    Ketiga orang tersebut ditangkap karena memulai perusakan terhadap salah satu kantor ormas sehingga memicu perkelahian antar dua pihak itu dan terjadi kejar- kejaran dengan membawa senjata tajam di area Tanah Abang.

    HD dan FZ merupakan dua orang yang terekam oleh warganet membawa senjata tajam dalam peristiwa itu dan berakhir dengan tawuran hingga malam hari pada Jumat, 25 Oktober 2019 lalu.

    Susatyo mengatakan kelima orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam peristiwa tawuran Tanah Abang itu dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang tindak pidana di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang.

    Saat ditanyakan adanya provokasi untuk memulai kekerasan dalam tawuran di Tanah Abang, Kapolsek Tanah Abang AKBP Lukman Cahyono masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. "Kami masih selidiki," ujar Lukman di kesempatan yang sama. Ia juga mengatakan polisi masih mencari barang bukti senjata tajam yang dibuang oleh para pelaku.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.