Fenomena Tanah Bergerak, Bangunan Sekolah Ini Jadi Rawan Longsor

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fenomena tanah bergerak d Keranggan, Setu, Tangerang Selatan membuat enam rumah retak dinding dan lantai  bahkan hingga ambruk, Jumat 22 November 2019. Tempo/Muhammad Kurnianto

    Fenomena tanah bergerak d Keranggan, Setu, Tangerang Selatan membuat enam rumah retak dinding dan lantai bahkan hingga ambruk, Jumat 22 November 2019. Tempo/Muhammad Kurnianto

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan -Tak hanya rumah di RT 14 RW 03, Keranggan, Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan, di wilayah Muncul, Serpong juga terdapat sebuah bangunan sekolah berkebutuhan khusus mengalami retak-retak di dinding dan lantainya, terkait fenomena tanah bergerak.

    "Sekolah kami liburkan sementara karena kita sedang membereskan barang- barang sekolah untuk dipindahkan, tetapi kita belum tau mau pindah ke mana," kata bendahara Sekolah Khusus Assalam 01, Indri Firmandyah, saat ditemui, Senin 25 November 2019.

    Menurut Indri, awal mula retak-retak yang ada di sekolah dari gempa bumi beberapa waktu yang lalu, dari gempa itu pihak sekolah masih biasa saja belum terlalu nampak retakannya.

    "Beberapa hari setelah gempa ada retak dan dikeluhkan setiap guru di masing-masing ruangan. Oh ya sudah kita pikir pada awalnya tukang bangunan kerjanya tidak benar," ujarnya.

    Melihat bangunan yang retak, lanjut Indri, ia melihat konblok parkiran motor yang berada di belakang sekolah bergeser, keesokan harinya juga makin bergeser.

    "Akhirnya bulan berikutnya tagihan PDAM yang biasanya ini kan subsidi karena sifatnya sosial dari yang awalnya Rp 200 ribu, lalu langsung melejit tagihannya jadi Rp 5 juta. Kita cari penyebabnya, ternyata ada pipa air bocor di pojok toilet belakang," kata Indri lagi.

    Melihat gedung yang retak- retak kata Indri, ia khawatir terhadap 84 siswa dan 14 guru yang ada di sekolah. Sementara pihak sekolah meminta dana rehabilitasi ke pemerintah provinsi Banten karena pennaggung jawabnya ada di provinsi Banten. 

    "Mereka bilang adanya dana rehabilitasi bencana. Kita sudah setuju tetapi dari provinsi mengatakan harus minta surat dari BPBD setempat. Setelah kita minta surat ke BPBD dan bangunan sekolah di cek, BPBD bilang kalau ini sudah sangat rawan banget (longsor)," imbuhnya.

    Sampai saat ini, tambah Indri, lebar retakan lantai mencapai 3 sentimeter dan kedalaman mencapai kurang lebih 24 sentimeter, pihak sekolah juga sudah berkemas dari hari Kamis 21 November sampai hari ini.

    Pantauan Tempo di lokasi, sekolah Assalam 01 berada di pinggir tebing dan pohon bambu yang berada di pinggir tebing. Mirip seperti yang terjadi di RT 14 RW 03, Kelurahan Keranggan, akibat fenomena tanah bergerak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.