Khotbah Natal 2019, Pendeta Gereja Immanuel Ini Sindir Ateisme

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pendeta memegang lilin saat merayakan misa malam natal di Gereja Immanuel, Jakarta, Selasa, 24 Desember 2019. Gereja Immanuel menampilkan baragam budaya nusantara melalui dekorasi Natal tahun ini. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    Seorang pendeta memegang lilin saat merayakan misa malam natal di Gereja Immanuel, Jakarta, Selasa, 24 Desember 2019. Gereja Immanuel menampilkan baragam budaya nusantara melalui dekorasi Natal tahun ini. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Jakarta -Pendeta Wuwungan menyampaikan khotbah Natal 2019 di Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Jakarta Pusat dengan bahasa Belanda pada pagi ini, Rabu, 25 Desember 2019 mulai pukul 10.00. Dalam ceramahnya, ia menyinggung Ateisme.

    Usai berkhotbah, Wuwungan membenarkan bahwa salah satu isi ceramahnya membahas tentang paham yang menolak konsep Tuhan dalam ajaran agama samawi maupun ardhi tersebut.

    Ceramah itu disampaikan Wuwungan berdasarkan pengalaman pribadinya bertemu dengan penganut Ateisme.

    "Beberapa minggu lalu dia datang kemari sama istrinya orang Indonesia, dia katakan 'saya tidak percaya', padahal dia bekas Roma Katolik," ujar Wuwungan.

    Menurut dia, paham Ateisme sekarang sedang marak di Eropa. Selain orang dewasa yang ditemui beberapa pekan lalu, paham Ateisme juga dianut oleh seorang anak kecil. Dia mengaku mendapatkan telepon dari orang tua anak tersebut tidak lama sebelum Natal.

    "Tidak ada Allah katanya," ujar Wuwungan.

    Wuwungan mengkritik penganut Ateisme. Menurut pria asal Sulawesi Utara tersebut, mereka pada akhirnya ingat Tuhan jika ajal mendekat.

    "Kalau sudah dekat dengan nafas terakhir, baru ingat hidupku bukan kita sendiri. Otak dan otot, Tuhan yang memberikan, siapa yang mengasih kepada kita kalau bukan Tuhan, itu yang saya katakan," ujar Wuwungan.

    Ihwal kemampuannya fasih berbahasa Belanda saat berceramah Natal 2019, Wuwungan mengaku sejak sekolah dasar era 1930-an, dirinya sudah belajar menggunakan bahasa kolonial itu. Begitu pun ketika menempuh pendidikan di sekolah menengah sampai sekolah tinggi teologi. "Di rumah juga orang tua (bahasa Belanda)," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.