Korban Longsor di Bogor: Kami Lapar dan Sakit-sakitan

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karena lambannya bantuan, warga mengevakuasi dan membersihkan jalan sendiri dengan alat seadanya di Desa Jayaraharja, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jumat 3 Januari 2020. TEMPO/M.A MURTADHO

    Karena lambannya bantuan, warga mengevakuasi dan membersihkan jalan sendiri dengan alat seadanya di Desa Jayaraharja, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jumat 3 Januari 2020. TEMPO/M.A MURTADHO

    TEMPO.CO, Bogor -Warga Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, mengeluh dan menghiba pertolongan. Setelah mereka terdampak jadi korban banjir dan longsor, kini para korban kelaparan, sakit-sakitan dan akses jalan terputus karena tertimpa lumpur setinggi lutut.

    Beberapa warung tutup karena sudah tidak punya lagi bahan dagangan yang bisa dijual. Seorang pedagang warung kelontong, Rohadi, 42 tahun, menyebut sudah dua hari ini dia tidak berbelanja sama sekali. "Mau belanja ke mana, jalan ke sana ke sini putus," ucap Rohadi ditemui di Desa Jayaraharja, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jumat 3 Januari 2020.

    Rohadi mengatakan sudah sampai hari ketiga pasca longsor ini belum ada sama sekali bantuan yang masuk dari pemerintah daerah, kecuali bantuan dari pemerintah desa.

    Ia sangat berharap dan meminta pemerintah tidak hanya membantu atau mengevakuasi korban yang berada di perkotaan saja, namun segera mengirim bantuan ke desa yang menjadi titik utama bencana terjadi. "Harusnya ke sini, kami yang terdampak parah ratusan rumah dan kendaraan terendam lumpur," ucap Rohadi.

    Kepala Desa Jayaraharja, Unus Maulana, mengatakan ada lima kampung pemukiman warganya yang terdampak bencana dengan kondisi sangat parah. Diantaranya Ciputih Tonggoh dan Ciputih Lebak, Sibentang, Lembursetu dan Cihuut.

    Unus mengatakan sejauh ini korban hanya dibantu seadanya, bahkan untuk makanan pun satu porsi bisa untuk tiga sampai empat orang. "Ya semampunya kita membantu," ucap dia.

    Menurut dia bantuan belum masuk ke desanya karena beberapa akses jalan masuk desa, terputus sebagian dan juga tertimbun longsor. Sehingga tidak bisa dilalui oleh kendaraan baik roda dua atau empat.

    Unus menyebut desa yang paling parah adalah Ciputih Tonggoh, 450 KK dengan 3.200 Jiwa terpaksa harus diungsikan dan perkampungan kosong. "Pertama takut longsor susulan, kedua rumah mereka pun hancur," ucap Unus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.