Tilang Elektronik Sepeda Motor, Pengemudi Ojol: Setuju, tapi...

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan melintasi jalan yang menggunakan kamera sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement terpasang di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Medan Merdeka Barat, Patung Kuda Monas, Jakarta, Kamis 23 Januari 2020. Kamera E-TLE pertama kali dioperasikan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya pada 1 November 2018 dengan menyasar kendaraan mobil. Hingga November 2019, E-TLE telah menangkap pelanggaran sebanyak 54.074 kali. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    Sejumlah kendaraan melintasi jalan yang menggunakan kamera sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement terpasang di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Medan Merdeka Barat, Patung Kuda Monas, Jakarta, Kamis 23 Januari 2020. Kamera E-TLE pertama kali dioperasikan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya pada 1 November 2018 dengan menyasar kendaraan mobil. Hingga November 2019, E-TLE telah menangkap pelanggaran sebanyak 54.074 kali. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Jakarta -Peraturan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengenai tilang elektronik atau E-TLE untuk kendaraan sepeda motor per 1 Februari 2019 mendapat pelbagai respon dari dari para pengemudi ojek online disingkat ojol.

    Semuanya mengaku setuju tilang elektronik namun dengan sejumlah syarat dan rasa keberatan.

    "Bagus sih, biar orang taat dan takut, (akhirnya) gak ngelanggar peraturan gitu. Cuma dikasih aja plang-plang pemberitahuan," ujar Afif, 30 tahun kepada Tempo di Jalan Palmerah Utara, Jakarta Barat.

    Berbeda dengan Afif, pengemudi ojek online lain Harto, 50 tahun, meskipun setuju dengan aturan tersebut, ia juga mengkritisi masalah penilangan karena memainkan ponsel saat berkendara.

    Dia menilai kalau aturan itu tidak adil, karena pengendara mobil bebas menggunakan ponsel, sedangkan pengendara motor terancam ditilang. "Itu namanya gak adil. Kalau mau dijalankan, ya yang pakai mobil juga," ujarnya.

    Sedangkan Agung, 35 tahun, mengatakan kalau aturan tersebut berat dijalankan. Terlebih karena infrastruktur tidaklah mendukung. "Ya gimana ya, soalnya macet, susah buat jalan. Terus kadang-kadang kan kita (saat) lampu merah, (motor) nerobos (pembatas jalan) dikit. Karena keadaan juga sih," ujar Agung.

    Agung menilai kalau sebaiknya infrastruktur diperbaiki terlebih dahulu sebelum aturan tersebut dijalankan. "Mungkin kalau jalannya enak, lenggang, mungkin pelanggaran itu akan jarang (terjadi)," ujarnya.

    Senada dengan Agung, Ijul, 19 tahun, juga menyatakan aturan tersebut berat dijalankan. Hal ini lantaran terkadang ketidakpatuhan datangnya dari pelanggan. Ia memberi contoh ketika mendapatkan pelanggan yang membawa serta anaknya, membuatnya harus berbonceng tiga. "Kadang kan dapat customer ada yang bawa anak minta di depan," ujarnya.

    Selain muatan penumpang, Ijul juga kerap mendapatkan pelanggan yang enggan memakai helm. "Kalau penumpang gak pakai helm si sering," ujarnya.

    Namun mengetahui akan berlakunya aturan tilang elektronik tersebut per Februari, Ijul menyatakan kalau dirinya akan lebih tegas kepada pelanggan. "Kalau gak mau ya minta dicancel aja, soalnya dari pada rugi sendiri kan kalau ditilang. Entar tiba-tiba dateng surat ke rumah, surat cinta."

    Pada Senin, 27 Januari 2020 Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusuf menyatakan pelanggaran yang menjadi fokus penilangan adalah tidak memakai helm, marka jalan atau menerobos lampu merah, stop line, dan menggunakan ponsel saat berkendara.

    Dalam pelaksanaannya, proses tilang elektronik sepeda motor berlangsung seperti penilangan pada mobil. Yaitu polisi akan mengirim surat pemberitahuan ke alamat pelanggar. Kemudian, pengemudi akan memberi konfirmasi. "Kalau tidak ada respon, ya kita blokir STNK," Yusuf menjelaskan.

    KIKI ASTARI | DA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ETLE, Berlakunya Sistem Tilang Elektronik Kepada Sepeda Motor

    Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya telah memberlakukan sistem tilang elektronik (ETLE) kepada pengendara sepeda motor.