Proyek MRT Fase 2, Tim Arkeologi Temukan Tanah Uruk dan Artefak

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2020. Kemunduran tersebut karena terjadi beberapa kendala yang terjadi di pengerjaan paket kontrak CP202, CP205, dan CP206. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Suasana proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2020. Kemunduran tersebut karena terjadi beberapa kendala yang terjadi di pengerjaan paket kontrak CP202, CP205, dan CP206. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Arkeologi Universitas Indonesia melakukan penggalian atau ekskavasi di 14 titik sekitar proyek mass rapid transit atau MRT fase 2.

    Guru Besar Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UI Prof. Dr. Cecep Eka Permana yang memimpin penggalian ini mengatakan, di 14 titik itu hampir semuanya ditemukan lapisan tanah uruk.

    Dalam lapisan tanah itu terdapat berbagai artefak, seperti tembikar, botol, pecahan keramik, logam, hingga tulang belulang.

    Namun, ia memastikan kalau artefak itu bukan berasal dari kota Jakarta. “Itu bawaan dari tempat lain yang tanahnya dibawa untuk menguruk daerah ini,” kata Cecep.

    Menurut dia, pengurukan tanah dalam rangka peninggian kerap dilakukan oleh pemerintah Jakarta sejak masa lampau. Tujuannya adalah untuk menghindari Kota Jakarta yang notabene berada di kawasan rendah.

    “Karena memang Jakarta itu rendah, sehingga banyak penimbunan untuk menaikkan permukaan tanah supaya banjir teratasi,” kata Cecep.

    Cecep menjelaskan, 14 titik itu terbagi di dua wilayah, yaitu wilayah Jalan MH. Thamrin dan kawasan Barat Daya Monumen Nasional.

    “Ada dua lokasi yang akan kami sampaikan, yaitu di wilayah rencana stasiun MRT Thamrin dan stasiun MRT Monas,” kata Cecep dalam webinar pada Kamis, 5 November 2020.

    Cecep menjelaskan, ada 7 titik kotak galian di wilayah Jalan MH Thamrin, yaitu di depan Kantor Kementerian Agama, bagian selatan Jalan Kebon Sirih, Menara Jam Sarinah, di samping dan depan Kementerian ESDM, serta di depan kantor Indosat.

    Sementara itu, di kawasan Monas, ekskavasi dilakukan di jalur hijau pintu barat daya Monas, taman barat daya Lapangan Merdeka Barat, di depan RSS Lapangan Medan Merdeka Barat, pagar barat Lapangan Merdeka, serta tiga titik di pelataran air mancur menari.

    Ekskavasi tersebut dilakukan untuk memastikan wilayah-wilayah itu aman dan bebas dari situs bersejarah manakala dibangun fasilitas MRT fase 2 di bawah tanahnya.

    Cecep mengatakan, rata-rata ekskavasi yang ia lakukan hingga kedalaman 2 meter. Berbagai perkembangan fasilitas kota, seperti pipa air, kabel listrik, coran di masa lampau, dan beton terlihat saat ekskavasi.

    Sebelumnya, pada 2018 Cecep beserta timnya pernah melakukan ekskavasi di wilayah Jakarta Utara dalam rangka pembangunan MRT fase 2.

    Berdasarkan ekskavasi itu, Cecep memberikan rekomendasi pembangunan MRT fase 2, namun dengan catatan. Di mana ada wilayah yang diperbolehkan dibangun jalur keluar-masuk kereta, ada beberapa yang harus dipindahkan lokasinya dari rencana awal. Menurut dia, saat ekskavasi di wilayah Utara ditemukan banyak temuan yang berasal dari abad 16-18.

    Ia meminta pembangunan MRT fase 2, khususnya di wilayah Jakarta Utara, agar dilakukan dengan berhati-hati. “Dari Monas kan aman, tapi di wilayah kota ini justru harus hati-hati karena struktur wilayah kota yang tua sekali itu pasti terpendam di dalam tanah dan sampai 5 meter pun masih ada struktur-struktur yg harus diperhatikan,” kata Cecep.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ivermectin: Obat Cacing yang Digadang-gadang Ampuh dalam Terapi Pasien Covid-19

    Menteri BUMN Erick Thohir menilai Ivermectin dapat menjadi obat terapi pasien Covid-19. Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebutkan belum ada penelitian.