Tugu Sepeda DKI Dikritik: Susah Dilihat, Cuma Pencitraan

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampak depan tugu sepeda. Foto : Dishub DKI

    Tampak depan tugu sepeda. Foto : Dishub DKI

    Jakarta - Pesepeda mengkritik pembangunan Tugu Sepeda di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Seorang pesepeda, Santoso Harjanto, 62 tahun, mengatakan Pemerintah DKI tidak bisa melihat skala prioritas dalam pembangunan di Ibu Kota.

    "Pembangunan Tugu Sepeda itu kepentingannya apa? Dilihat dari sudut pandang saja sulit dilihat pesepeda, meski ada di Sudirman," kata penduduk Fatmawati, Jakarta Selatan itu, saat ditemui di Jalan Jenderal Sudirman, Ahad, 11 April 2021.

    Baca: Tugu Sepeda di Sudirman, Ikon Baru Jakarta yang Menuai Kritik Emi Salim

    Tugu Sepeda itu berdekatan dengan Stasiun MRT Setiabudi. Tugu berada di pertigaan Jalan Jenderal Sudirman menuju Jalan Setiabudi Raya dekat gedung Prudential Tower. Berbentuk lingkaran menyerupai roda, di lingkaran tugu itu terdapat lingkaran lagi dengan berbagai ukuran dan motif.

    Menurut Santoso, pembangunan tugu tidak mempunyai manfaat bagi pesepeda. Lebih baik, kata dia anggaran pembangunan tugu senilai Rp 800 juta dialihkan untuk infrastruktur lain yang lebih penting.

    Banyak hal yang lebih penting dibandingkan bangun tugu itu, meski dananya dari swasta. "Apalagi sekarang masih pandemi dan banyak orang yang kesusahan," ujarnya.

    Tugu sepeda, kata dia, sudah ada di Ibu Kota. Tugu dan jalur sepeda pernah didirikan di kawasan Melawai dan Taman Ayodya di Jakarta Selatan. Tugu dibangun pada 2005 lalu karena ada pesepeda yang menjadi korban tabrak lari di dekat Polda Metro Jaya pada 2000.

    "Korbannya teman saya. Saat itu saya menulis surat ke Presiden Megawati agar pesepeda diperhatikan," ujarnya. Suratnya dibalas dan Megawati menugasi Menteri Perumahan saat itu untuk membangun jalur sepeda yang pertama di Melawai.

    Selain infrastruktur pesepeda, kata dia, yang perlu dibangun saat ini adalah kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas. Pembangunan infrastruktur sepeda saat ini tidak akan maksimal tanpa diiringi kesadaran lalu lintas terutama bagi pengendara kendaraan bermotor.

    Pengendara motor hingga mobil perlu diedukasi bahwa mereka harus memberikan kesempatan sepeda untuk berbagi ruang. "Jadi wawasan yang perlu ditingkatkan. Jangan mobil dan motor asal sodok saja saat sepeda lagi di jalan," ujarnya.

    Sebenarnya, pesepeda tidak perlu dimanja dengan infrastruktur. "Kami hanya meminta agar wawasan berlalu lintas warga ditingkatkan jadi bisa saling menghormati di jalan." 

    Ketua Komunitas Pedals 30, Ircham, juga mempertanyakan kepentingan pemerintah dalam membangun Tugu Sepeda. "Banyak hal lain yang lebih penting," kata Ircham saat ditemui di dekat kawasan Tugu Sepeda.

    Menurut dia, lebih baik pemerintah memperbanyak jalur sepeda permanen di Ibu Kota. Dengan memperbanyak jalur permanen itu, pesepeda lebih terlindungi karena mempunyai jalur sendiri yang terpisah dari kendaraan bermotor.

    Ircham berharap pemerintah mengkaji dan mendengar masukan pengguna sepeda sebelum melakukan pembangunan infrastruktur sepeda. Dengan kajian yang baik, pemerintah jadi bisa menentukan prioritas pembangunan infrastruktur pesepeda. "Yang harus menjadi prioritas adalah bagaimana sepeda yang sudah dijadikan alat transportasi ini aman." 

    "Kalau Tugu Sepeda pentingnya cuma pencitraan DKI peduli sepeda, tapi untuk kepentingan langsung untuk pesepeda tidak ada." Orang juga jarang lihat.



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H