Sahroni Diminta Mundur dari Formula E, NasDem: Memang Surya Paloh yang Tentukan?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperhatikan mobil Tesla Model Y milik Ketua Pelaksana Formula E Ahmad Sahroni di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin, 29 November 2021. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperhatikan mobil Tesla Model Y milik Ketua Pelaksana Formula E Ahmad Sahroni di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin, 29 November 2021. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino angkat bicara soal permintaan Partai Solidaritas Indonesia atau PSI yang meminta Ketua Umum Surya Paloh memerintahkan Ahmad Sahroni mundur sebagai Ketua Pelaksana Formula E.

    Sahroni yang merupakan anggota DPR RI dari Partai Nasdem, ditunjuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai Ketua Pelaksana ajang balap mobil listrik itu pada Sabtu pekan lalu. 

    Menurut Wibi, ditunjuknya Sahroni sebagai Ketua Pelaksana terlepas dari statusnya sebagai politikus NasDem. Bahkan, kata Wibi, partai tidak pernah merekomendasikan atau menunjuk Wibi terlibat di Formula E

    "Jadi tidak ada kaitannya dengan parpol tertentu, tapi profesionalitas bang Roni sebagai penggiat dan penggila otomotif," kata Wibi saat dihubungi Tempo, Selasa, 30 November 2021. 

    Selain itu, Wibi mengatakan Ahmad Sahroni yang dikenal sebagai sosok crazy rich Tanjung Priok memang seorang penggila otomotif. Dia juga memegang jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Motor Indonesia (IMI). Sehingga, penunjukan sebagai Ketua Pelaksana Formula E tidak ada hubungannya dengan partai. 

    "Jadi ketika PSI minta Pak Surya Paloh mencopot, memangnya pak Surya Paloh yang menentukan? Kan aneh," kata Wibi. 

    Sebelumnya, Sekjen DPP PSI Dea Tunggaesti mendesak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memerintahkan Bendahara Umum partai itu, Ahmad Sahroni mundur dari jabatannya sebagai Ketua Pelaksana Formula E Jakarta. Menurut Dea, langkah Sahroni sebagai Ketua Pelaksana membahayakan karena membawa-bawa nama Presiden Joko Widodo atau Jokowi ketika masih banyak persoalan membelit Formula E.

    "Formula E sedang diselidiki KPK. Eh, panitia malah minta bertemu Presiden Jokowi. Hal itu tidak layak dilakukan, baik secara politis dan etis. Langkah-langkah Mas Sahroni membahayakan Pak Jokowi," kata Dea. 

    Ia mengatakan, saran tersebut berangkat dari keprihatinan sebagai sesama anggota koalisi pemerintahan Jokowi. Menurut Dea, saat ini Jokowi sedang fokus pada usaha pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Sehingga, ia menyarankan agar tidak ada pihak yang mengganggu kinerja tersebut. 

    “Meski lebih junior, tak ada salahnya kami mengingatkan saudara tua. Mari sama-sama kita jaga Pak Jokowi," kata Dea. 

    Setelah bertemu Anies Baswedan, Ahmad Sahroni mengatakan pihaknya bakal menemui Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk meminta arahan soal lokasi sirkuit Formula E di Jakarta. Dalam pertemuan nanti, Sahroni mengatakan pihaknya bakal menyerahkan feasibility study atau uji kelayakan jalur balapan itu oleh Formula E Operation atau FEO.

    "Jadi semua kegiatan totally kami yang selenggarakan, tapi karena ini perhelatan internasional, makanya lapor ke Presiden," kata Sahroni. 

    Baca juga: PSI Desak Surya Paloh Perintahkan Sahroni Mundur Sebagai Ketua Pelaksana Formula E

    M JULNIS FIRMANSYAH 


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.