Minggu, 16 Desember 2018

Asal Muasal "Cina Benteng" Dalam Teater Batavia 1740

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Museum Fatahillah.(TEMPO/Zulkarnaen)

    Museum Fatahillah.(TEMPO/Zulkarnaen)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Kegiatan Gebyar Taman Fatahillah yang telah berlangsung selama hampir satu bulan, hari ini ditutup dengan digelarnya teater kolosal yang berjudul Batavia 1740: Sebuah Rekonstruksi Sejarah di Taman Fatahillah, Museum Sejarah Jakarta. "Teater ini akan menghidupkan kembali suasana tahun 1740 dan peristiwa kelam di Batavia pada 9 Oktober 1740 yakni kesalahpahaman yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan warga Tionghoa di Batavia," kata Dwi Martati, Kepala Seksi Koleksi dan Perawatan Museum Sejarah Jakarta di sela acara.

    Dalam lakon kali ini, menurut Dwi yang ingin ditonjolkan adalah adanya toleransi antara penduduk pribumi dan warga Tionghoa saat itu. "Kami ingin ungkapkan peran pribumi menyelamatkan warga Tionghoa yang dikejar VOC dalam peristiwa itu," ujarnya. Kisah inilah yang menurutnya melahirkan istilah "Cina Benteng" di beberapa wilayah pinggiran Jakarta, seperti di Tangerang. "Jadi orang-orang pribumi seolah menyembunyikan warga Tionghoa dalam benteng."

    Yang unik, pagelaran kali ini tidak menggunakan panggung. Panggung pagelaran adalah seluruh areal Taman Fatahillah dan Museum Sejarah Jakarta. "Kami mengadopsi pola pementasan yang ada di Inggris di mana pemain dapat langsung berinteraksi dengan penonton karena memang tidak ada pembatas," tutur Dwi.

    Sayangnya, konsep baru ini membuat penonton sulit untuk memahami keseluruhan cerita karena adegan yang berpindah-pindah. "Saya bingung, pemainnya terus bergerak padahal penontonnya banyak sekali, jadi tidak bisa ikuti cerita," ujar Yana, salah seorang penonton. Dwi mengakui kendala ini, "Ini memang pola yang baru diusung, nantinya kita akan kembangkan lagi agar lebih baik."

    Drama berdurasi 3 jam yang digelar mulai pukul 14.00 ini disutradarai oleh Rizky Pradana dan melibatkan 100 orang pemain dari Teater TED, Teater Ronggolawe dari Universitas Negeri Jakarta dan Teater SMA 4 Jakarta. Hadir juga kelompok biola anak-anak dari Scarbby Music School.

    PINGIT ARIA
     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".