Air Baku PDAM Bekasi Diduga Tercemar Obat Antinyamuk

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dimas Aryo

    TEMPO/Dimas Aryo

    TEMPO Interaktif, Bekasi - Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Bhagasasi menghentikan produksi air bersih selama sepekan terakhir. Pasalnya, air baku dari Kali Bekasi diduga tercemar obat antinyamuk. “Pencemaran terjadi sepanjang pekan lalu,” kata Direktur PDAM Tirta Bhagasasi Wahyu Prihantono kemarin.

    Ia mengungkapkan produksi air bersih dihentikan agar tak meracuni pelanggan. “Memang bau obat antinyamuk dan airnya berminyak,” ujarnya. Pelaku pencemaran, menurut Wahyu, diduga adalah perusahaan obat antinyamuk yang berlokasi di hulu air baku, yakni Cileungsi, Bogor.

    Meski telah mengambil sampel air tercemar, Wahyu mengakui belum meminta konfirmasi langsung ke perusahaan yang bersangkutan. Rencananya hari ini dia langsung mengadukan masalah itu ke Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. “Pelaku pencemaran harus mendapat sanksi keras dari pemerintah,” ia menegaskan.

    Akibat pencemaran tersebut, pasokan air ke sejumlah pelanggan pekan lalu tersendat. Bahkan kantor Wali Kota Bekasi sempat mengalami kesulitan air bersih. Saat terjadi pencemaran, produksi air turun menjadi 150 liter per detik dari kondisi normal 350 liter per detik.

    Air Kali Bekasi diolah PDAM Tirta Bhagasasi dan PDAM Tirta Patriot. Pengolahan PDAM Tirta Bhagasasi dilakukan di water treatment plant (WTP) atau alat pengolahan air di cabang Bekasi Kota.

    Sementara itu, PDAM menggunakan alat pengolahan air portabel untuk memenuhi kebutuhan air warga yang kekeringan. Seperti di wilayah Kecamatan Cibarusa, Kabupaten Bekasi, satu unit alat pengolahan air portabel kapasitas ratusan liter telah dipakai warga. “Bisa untuk konsumsi,” ia menambahkan.

    HAMLUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.