Tiga Detik yang Merusak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah warga yang rusak akibat gempa di Kampung Muara Satu, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Senin (9/10). TEMPO/Arihta Surbakti

    Rumah warga yang rusak akibat gempa di Kampung Muara Satu, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Senin (9/10). TEMPO/Arihta Surbakti

    TEMPO.CO, Bogor--Sambil menggendong anaknya yang masih balita, Atikah, 30 tahun, termenung di teras rumah tetangganya. Perempuan berperawakan kecil ini tidak mengira rumah yang sudah ia huni sejak delapan tahun lalu itu akan ambruk dalam hitungan detik.

    Atikah adalah salah seorang korban bencana gempa bumi di Kampung Muara Satu, RT 01 RW 01, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Saat kejadian, dia mengaku sedang tidur pulas. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, dinding dan genting rumah bergetar.

    "Saya langsung bangun dan menggendong anak lari ke luar rumah sambil berteriak asma (menyebut nama) Allah," Atikah mengungkapkan.

    Dari sudut matanya mulai terlihat butiran air. Ia kini menangis. "Saya bingung. Rumah hancur, enggak ada uang karena habis waktu Lebaran."

    Gempa berkekuatan 4,8 pada skala Richter pada Ahad dinihari, 9 September 2012, itu cuma berlangsung tiga detik, tapi cukup untuk meruntuhkan tembok dan atap rumah Atikah serta rumah warga lainnya . “Kalau lebih (dari tiga detik), semua rumah di kampung ini bisa roboh,” kata Odim, 63 tahun, tetangga Atikah.

    Saat gempa terjadi, warga Kampung Muara, yang terdiri atas 60 keluarga dan berada di kaki Gunung Salak, berhamburan ke luar rumah. Hingga goyangan gempa selama tiga detik itu usai, masih terdengar suara genting jatuh dan tembok yang ambruk.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, Ahad, 9 September 2012, mengungkapkan bahwa gempa itu termasuk ringan. Meskipun demikian, secara keseluruhan lindu telah merusakkan sekitar 250 rumah .

    Gempa juga mengguncang wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Sebanyak 141 rumah di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan mengalami kerusakan. Saluran air sepanjang 50 meter di Kampung Darmaga, Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ambruk dan longsor.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Suharjono, mengatakan penyebab gempa adalah terjadinya pertemuan lempeng.

    Menurut dia, di wilayah Indonesia terdapat lempeng-lempeng yang berpotensi menimbulkan gempa. Ada patahan-patahan di Sumatera, Aceh, Lampung, dan Cimandiri (Lembang). Sedangkan patahan paling banyak ada di Sulawesi. "Konsekuensi pertemuan lempengan bisa berupa energi yang disebut gempa," ujar Suharjono.

    ARIHTA U SURBAKTI | DEDEN ABDUL AZIZ | AFRILIA SURYANIS

    Berita lain:
    Ditemukan Gambar Yesus di Buku Panduan Haji

    Alasan Munir Pilih Garuda Indonesia

    Munir dan Mobil Toyota Mark Putih Kesayangannya

    God Bless Manggung untuk Jokowi

    Golkar Diminta Tidak Tersandera Bisnis Bakrie

    Artis Gaek Dukung Jokowi

    Aburizal Bakri Diminta Hati-hati


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.