Rabu, 14 November 2018

Dukun Rangkeng, Hujan dan Kitab Mujarobat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pawang ritual berdoa sebelum Ritual Ujungan di Desa Gumelem Wetan Kecamatan Susukan Banjarnegara. Ritual Ujungan diadakan untuk memanggil hujan yang sudah dilakukan sejak tahun 1830. Darah yang keluar dari petarung Ujungan dianggap sebagai simbol bakal turunnya hujan. TEMPO/Aris Andrianto

    Pawang ritual berdoa sebelum Ritual Ujungan di Desa Gumelem Wetan Kecamatan Susukan Banjarnegara. Ritual Ujungan diadakan untuk memanggil hujan yang sudah dilakukan sejak tahun 1830. Darah yang keluar dari petarung Ujungan dianggap sebagai simbol bakal turunnya hujan. TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta--Masyarakat Betawi mengenal istilah dukun rangkeng, atau seseorang yang dianggap punya ilmu ghaib untuk memindahkan energi hujan untuk turun di wilayah lain, alias pawang hujan. Dukun rangkeng selalu ada dalam aneka hajat yang digelar orang Betawi. "Dalam setiap upacara adat, dukun rangkeng pasti dilibatkan," kata budayawan dan ahli sejarah Betawi dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra kepada Tempo.

    Hingga kini bahkan warga Betawi masih kerap menggunakan jasa dukun rangkeng dalam setiap hajatan. "Orang pintar yang dianggap pantas jadi dukun rangkeng masih ada beberapa," kata Yahya. Organisasi Lembaga Kebudayaan Betawi pun masih menggunakan jasa dukun rangkeng saat akan mengadakan acara. (Lihat juga: Jakarta Zaman Baheula, Pawang Hujan Dikerangkeng)

    "Kalau kami mau bikin acara kebudayaan yang mengundang pejabat, seperti Gubernur Joko Widodo, pasti kami pakai dukun rangkeng agar lancar," Yahya menjelaskan. Bukan soal percaya kemampuan mistisnya, namun sosok yang saat ritual duduk di dalam kerangkeng bambu ini memang sudah menjadi bagian dari adat istiadat Betawi.

    Tidak hanya bisa menangkal hujan turun, dukun rangkeng juga dipercaya punya kemampuan menarik minat khalayak untuk menghadiri sebuah hajat. "Dulu belum ada undangan, jadi orang yang ingin pestanya ramai minta bantuan dukun rangkeng agar warga sekitar berduyun-duyun datang," Yahya menjelaskan. Dukun rangkeng juga punya jampi-jampi menjaga nafsu makan tamu undangan. "Jadi tidak ada yang kemaruk, makanan cukup untuk semua undangan."

    Masyarakat Betawi beruntung, sosok dukun rangkeng saat ini masih eksis meski zaman sudah semakin modern. "Soalnya ilmu dukun rangkeng ini terus turun ke anak cucu mereka," kata Yahya. Meski tidak banyak tapi ada sejumlah orang Betawi yang kini dianggap diwarisi ilmu dukun rangkeng.

    Selain diwariskan secara turun-temurun, rupanya ilmu dukun rangkeng juga tercatat dalam kitab mujarobat yang ditulis pada zaman Sunan Kalijaga. Yahya mengatakan, ilmu untuk menangkal hujan dan ilmu lain untuk orang pintar masyarakat Betawi tertulis di sana. "Jadi bisa saja dipelajari."

    Meski demikian Yahya mengatakan sosok dukun rangkeng maupun orang pintar di zaman modern saat ini memang sudah dilupakan. "Ya sekarang memang hanya jadi bagian adat-istiadat kuno." Tapi, kata dia, buat orang Betawi yang masih percaya, sosok dukun rangkeng akan selalu dicari saat seseorang hendak membuat acara seperti pernikahan, syukuran, atau sunatan.

    PRAGA UTAMA

    Baca juga:
    Tahun Baru, Jokowi-Ahok Pakai Seragam Kotak-Kotak

    Balok Beton di Tanggul KBB Yang Ambruk Dievakuasi

    Tahun Baru, Taman Mini Targetkan 50 Juta Orang

    Padat Pengunjung, Pengelola Ancol Buka Loket Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?