16 Pembantu di Rumah Jenderal, Bagaimana Bagi Tugasnya?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suami terduga kasus penyekapan dan penganiayaan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang (kiri) memberi penjelasan pada wartawan tentang berita penyekapan 17 PRT  di Bogor, Jabar, Sabtu (22/2). Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang  membantah, isterinya  telah melakukan penyekapan dan penganiayaan PRT  dan siap dilakukan proses pemeriksaan oleh kepolisian Bogor untuk menuntaskan kasus  tersebut. ANTARA/Jafkhairi

    Suami terduga kasus penyekapan dan penganiayaan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang (kiri) memberi penjelasan pada wartawan tentang berita penyekapan 17 PRT di Bogor, Jabar, Sabtu (22/2). Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang membantah, isterinya telah melakukan penyekapan dan penganiayaan PRT dan siap dilakukan proses pemeriksaan oleh kepolisian Bogor untuk menuntaskan kasus tersebut. ANTARA/Jafkhairi

    TEMPO.CO, Jakarta - Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Mangisi Situmorang mengakui mempekerjakan banyak pembantu rumah tangga di rumahnya, Jalan Danau Matana Blok C5 Nomor 18, RT 08 RW 03, Perumahan Duta Pakuan, Kelurahan Tegallega, Bogor Tengah, Kota Bogor. Pembantu yang berjumlah 16 orang itu mendapat tugas sesuai pembagian.(baca: Istri Dituduh Sekap PRT, Jenderal Mangasi Minta Maaf ke Kapolri)

    Empat orang pembantu rencananya dipekerjakan di peternakan lele milik Mangisi. Ternak lele itu dibuat di kawasan Curug Nangka, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, di tanah milik kakaknya. “Saya kan sudah purnawirawan, untuk mengisi waktu dan nafkah makanya saya bikin ternak lele karena itu menjanjikan,” kata Mangisi kepada wartawan di Bogor, Sabtu petang, 22 Februari 2014.(baca: Alasan Brigjen Mangisi Punya 16 Pembantu,)

    Adapun 12 pembantu perempuan lainnya bertugas membersihkan dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya di kediaman Mangisi. Hanya, kata purnawirawan polisi itu, dari 12 pekerja perempuan itu, ada satu pekerja yang mengalami gangguan berbicara yang tidak diketahui namanya. Pembantu tersebut, menurut Mangisi, mengalami keterbelakangan mental.(baca: PRT Disiksa Istri, Jenderal Bisa Kena Getah)

    Karena ada pembangunan rumah di kawasan peternakan lele itu, Mangisi akhirnya memutuskan mempekerjakan ke-16 orang itu di rumahnya.  "Karena kakak saya membangun lagi rumah di sana maka sementara di sini dulu," katanya.

    Namun Mangisi menyatakan usaha peternakan lele ini mungkin batal dilanjutkan karena mencuatnya kasus penganiayaan dan penyekapan pembantu yang melibatkan keluarganya. Padahal, usaha ini sudah berjalan dan Mangisi sudah memiliki 40 ribu bibit lele baru. "Karena adanya kasus ini, mungkin akhirnya diurungkan," katanya.

    Kasus penganiayaan di rumah Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Mangisi ini mendapat sorotan ketika salah satu pembantunya, Yuliana Lewer, melaporkan Mutiara, istri Mangisi, ke polisi. Saat bekerja di rumah Mangisi, Yuliana mengaku tidak digaji selama tiga bulan. Dia pun akhirnya memilih kabur dari rumah majikannya.(baca: Pengakuan PRT Istri Jenderal: Dicakar dan Tak Diberi Gaji)

    Ketika kabur itulah Yuliana ditemukan oleh sejumlah orang. Dia meminta dijemput keluarganya. Setelah dijemput, Yuliana melaporkan kasus ini ke Polres Bogor.(baca: Kasus Penganiayaan oleh Istri Jenderal, 12 Saksi Diperiksa  )

    SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.