Akhir Tahun, Bekasi Olah Sampah Jadi Listrik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja makan diatas tumpukan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, 5 November 2015. TEMPO/Subekti.

    Seorang pekerja makan diatas tumpukan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, 5 November 2015. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Bekasi -

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memberi hibah mesin pengolah sampah dengan kapasitas 100 ton per hari kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi. Mesin jenis pirolisis tersebut diyakini mampu mengatasi persoalan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Burangkeng, yang telah melebihi kapasitas.

    "Kami sebagai proyek percontohan," kata Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bekasi Dody Agus Supriyanto, Minggu, 21 Februari 2016.

    Menurut dia, mesin pengolah sampah sejenis incinerator tersebut bakal dipasang bulan depan oleh Kementerian. Proses pemasangannya membutuhkan waktu hingga 6 bulan. "Oktober sudah bisa diuji coba," kata Dody. Menurut dia, cara kerja mesin tersebut ialah mereduksi sampah di TPA Burangkeng.

    Mesin itu berkapasitas hingga 100 ton sehari dan menghasilkan listrik sebanyak 1 megawatt. Jika sukses, mesin itu bakal dikembangkan, dan ditambah sesuai dengan kebutuhan. (Baca juga: YLKI Dukung Penerapan Kantong Plastik Berbayar)

    Dody mengatakan, pada saat uji coba, pihaknya bakal dilatih oleh Kmenterian untuk mengoperasikannya. Karenanya, nanti pengolahan sampah di TPA Burangkeng dikelola sendiri tanpa melibatkan pihak swasta. "Bisa berbentuk badan usaha karena menghasilkan listrik yang dijual ke PLN," kata Dody.

    Menurut dia, mesin tersebut akan dibangun dengan teknologi Zero Waste. Cara kerja mesin ini, membakar sampah yang dipadu dengan air sehingga proses pembakaran itu akan menghasilkan uap yang mampu menggerakkan turbin. "Gerakan dari turbin itulah yang  mampu menghasilkan listrik," kata Dody.

    Dody pun memastikan mesin ini sangat ramah lingkungan karena proses pembakarannya di atas suhu 500 derajat Celcius. Dengan demikian, gas beracun berupa dioksin akan musnah bersama pembakaran sampah tersebut. (Baca juga: Uang Penjualan Kantong Plastik untuk Perbaikan Lingkungan)

    Dia berujar, sistem ini diyakini mampu mengurangi tumpukan sampah yang terjadi di TPA Burangkeng. Sebab, menurut prediksinya, 1-2 tahun lagi, empat zona seluas 11 hektare TPA di sana akan melebihi kapasitas. Bahkan ketinggian gunungan sampah saat ini mencapai 20-25 meter.

    Ia mengatakan produksi sampah warga Kabupaten Bekasi setiap hari mencapai 1.500 ton. Sedangkan yang bisa dibuang ke TPA hanya mencapai 750 ton karena keterbatasan lahan dan armada sampah yang jumlahnya hanya mencapai 76 unit. "Kami sedang berupaya memperluas TPA," tuturnya. "Tapi masih dalam kajian."

    Kasubid Tata Ruang dan Infrastruktur pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bekasi Evi Mutia mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi rancangan tata ruang wilayah (RTRW) di wilayah setempat. Seusai evaluasi, kata dia, TPA bakal diperluas hingga 3 hektare. "TPA nanti bakal seluas 14 hektare," kata Evi. (Baca juga: Sampah di Indonesia Mencapai 64 Juta Ton Per Tahun)

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.