Dana Ekstra Kurikuler Rp 2 Miliar, Ini Kata Kepala SMAN 5 Depok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SMAN 5 Depok membentuk Bank Smanli sebagai pengelola sumbangan sekolah. TEMPO/Imam Hamdi

    SMAN 5 Depok membentuk Bank Smanli sebagai pengelola sumbangan sekolah. TEMPO/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Depok - Puluhan siswa SMA Negeri 5 Kota Depok diperkirakan tidak bisa ikut ujian tengah semester yang akan dimulai Jumat ini. Sebabnya kartu peserta pekan ulangan sekolah mereka ditahan pihak sekolah. Alasannya, mereka belum membayar sumbangan wajib yang besarnya mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per bulannya.

    Kepala SMA Negeri 5 Depok Zarkasih mengatakan pihaknya tidak mematok besaran sumbangan yang diminta kepada orang tua siswa. “Tidak bayar juga tidak apa-apa,” ujar Zarkasih, Rabu, 8 Maret 2017. Kebijakan sekolah menahan kartu ujian tengah semester siswa karena meminta komitmen orang tua yang pernah menyaakan bersedia menyumbang ke sekolah.

    Baca: Belum Bayar Sumbangan, Siswa SMA 5 Depok Terancam Tak Ujian

    “Kami tidak mewajibkan sumbangan, tapi kami meminta komitmen di awal yang sudah disepakati orang tua siswa,” ucap  Zarkasih. Menurut Zarkasih, pihaknya perlu menagih kepada orang tua siswa untuk kegiatan ekstra kurikuler para siswa, karena bantuan dari pemerintah untuk biaya operasional tidak cukup untuk membiaya seluruh kebutuhan sekolah.

    Apalagi, ujar Zarkasih, setiap tahun sekolah harus mengucurkan Rp 2 miliar untuk 25 kegiatan ekstra kurikuler siswa. “Kami memang meminta sumbangan untuk biaya yang tidak bisa ditutupi anggaran dari pemerintah kepada orang tua,” kata Zarkasih,

    Menurut Zarkasih, anggaran jumbo ekstra kurikuler tersebut diberikan sekolah untuk memfasilitasi semua kegiatan ekstra kurikuler. “Bahkan, beberapa kali siswa dari ekstra kurikuler sekolah dikirim ke luar negeri dari dana tersebut,” kata Zarkasih.

    Saat Tempo meminta jumlah kebutuhan dan total sumbangan yang didapatkan sekolah dari orang tua siswa, Zarkasih tidak mau memberikannya. Zarkasih hanya menyebutkan anggaran dari provinsi sebesar Rp 700 ribu dan pusat Rp 1,4 juta per siswa per tahun. “Tidak cukup untuk membiaya seluruh kebutuhan sekolah,” ujar Zarkasih.

    Soalnya, Zarkasih beralasan, ada 39 guru honorer yang dipekerjakan, dan membutuhkan anggaran Rp 70 juta per bulan untuk menggaji mereka. Pantauan Tempo, SMAN 5 cukup sistematis dalam mengelola sumbangan sekolah.

    Untuk mengelola sumbangan orang tua siswa, sekolah membuka semacam pusat penghimpunan dana yang diistilahkan sebagai Bank Smanli (SMAN 5). Bank tersebut dikelola oleh tenaga honorer sekolah.

    Bank Smanli menjadi tempat penahanan kartu ujian siswa. Siswa membayar sumbangan maupun pembayaran lainnya ke bank bentukan sekolah itu. Bagi siswa yang telah membayar subangan ke bank tersebut, baru mereka diberikan kartu ujian.

    Seorang siswa Kelas 11 IPS 3 yang tak ingin disebut namanya mengatakan dirinya hingga Rabu ini belum menerima kartu ujian, karena masih menunggak sumbangan wajib. Siswa yang tinggal di Tanah Baru itu menunggak pembayaran Rp 200 ribu per bulan selama empat bulan.

    “Saya belum bayaran sejak Oktober 2016. Jadi tidak diberikan kartu ujian,” kata siswa itu saat ditemui di luar pagar sekolah. Ia pasrah melihat temannya yang telah mendapatkan kartu ujian, karena telah mampu membayar sumbangan wajib.

    Baca juga: Terkait Sumbangan, SMA 5 Depok Masih Tahan 800 Kartu Ujian Siswa

    Ia mengatakan sekolah masih membolehkan siswa mengikuti ujian sekolah, meski belum bisa membayar. Namun, sekolah meminta uang denda sehari Rp 5 ribu saat ujian dimulai. “Sehari didenda kalau belum bisa melunasi. Nggak tahu duit itu untuk apa,” ujarnya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.