Djarot Mengklaim Ia dan Ahok Pemenang Sejati Pilkada DKI  

Senin, 19 Juni 2017 | 09:56 WIB
Djarot Mengklaim Ia dan Ahok Pemenang Sejati Pilkada DKI  
Pasangan calon gubernur Ahok-Djarot saat memberikan keterangan pers di Jakarta, 19 April 2017. Ahok-Djarot Ucapkan Selamat Atas Kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Djarot Saiful Hidayat mengklaim dirinya dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok adalah pemenang sejati dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017. "Menangnya hanya pakai SARA (suku, agama, dan ras)? Mohon maaf, simpati pada kami bukan dari warga Jakarta, tapi seluruh masyarakat," katanya di depan kader PDI Perjuangan, Ahad, 18 Juni 2017.

Meski demikian, Djarot mengakui kekalahan yang diterimanya. "Kemarin, kita kalah, ya, kurang suara," ujarnya. Menurut Djarot, dirinya dan Ahok menerima simpati dari masyarakat karena mereka berdiri tegak dalam ideologi.

Baca: Djarot: Jakarta Timur Itu Otak, Perut, dan Dompet Warga DKI

Ahok-Djarot kalah suara dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Anies-Sandi baru resmi menjabat pada Oktober 2017. Tak lama setelah kegagalan dalam pemilihan, Ahok dihukum dua tahun penjara atas kasus penodaan agama.

Djarot kini menggantikan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia akan menjabat hingga Oktober 2017. Di sisa waktu kepemimpinannya, Djarot meminta Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Ady Widjaja alias Aming membantunya.

Djarot mengharapkan adanya gotong royong dari para kader PDI Perjuangan untuk mewujudkan Jakarta yang berubah lebih baik dan lebih bersih. Sebab, kata dia, baru kali ini jabatan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 dipegang seorang kader PDI Perjuangan.

Baca: Tugas Berat Djarot Menuntaskan Janji Tugas Jokowi-Ahok di 2012

"Perubahan luar biasa. Mereka semua berikan apresiasi. Ketika kita berikan KJP (Kartu Jakarta Pintar), yang dibantu termasuk anak-anak kader PDIP," ucapnya.

FRISKI RIANA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan