Menteri M. Nasir Diteror dan Dituding Keturunan PKI Lewat Medsos

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menristek dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. TEMPO/Subekti.

    Menristek dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta -Kepolisian Daerah Metro Jaya akan menjadwalkan ulang pemanggilan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir, menjadi saksi pencemaran nama baik.

    Polaris Siregar, Kepala Bagian Advokasi Hukum Biro Hukum dan Organisasi Kemristek dan Dikti melaporkan ada pencemaran nama baik melalui media sosial yang menyebut Nasir sebagai keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI), 10 Januari 2018 lalu ke polisi.
    Baca : Disebut Keturunan PKI, Menteri M. Nasir Lapor Polisi

    "Beliau (Nasir) tidak bisa hadir. Nanti beliau akan beri waktu bisanya kapan dan jamnya kapan," kata Argo, Rabu, 17 Januari 2018.

    Dugaan pencemaran nama baik ini didasarkan atas pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp. Pesan tersebut diterima Nasir dan para saksi pada Selasa lalu. Adapun pesan itu berbunyi, "PTN terus menjadi korban percobaan berkeputusan dan kepemimpinan Si Nasir Goblok. Walaupun saya bukan rektor tetapi memahami jeritan hati perlakuan nasir yang lebih kejam dari PKI. Jangan-jangan Nasir juga ini turunan PKI."

    ADVERTISEMENT

    Menurut Argo, Nasir merasa terancam dengan teror yang disampaikan melalui pesan WhatsApp tersebut. Selain itu, polisi juga masih menjadwalkan untuk menggali keterangan dari saksi lain. "Nomor belum bisa kami deteksi siapa penyebarnya. Nomornya sudah mati."

    Pelapor, kata Argo mendapatkan teror melalui pesan singkat tersebut lebih dari satu kali. Polisi saat ini masih menunggu keterangan dari Menteri M. Nasir, untuk menggali lebih dalam lagi ihwal teror yang dia alami. "Kami tunggu waktu luang Pak Menteri," ucap dia.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?