Kamis, 20 September 2018

Guru Dipecat karena Pilkada, Ini Tindakan Dinas Pendidikan Bekasi

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekolah Darul Maza, tempat guru dipecat, Robiatul Adawiyah, mengajar di Bekasi. Tempo/Adi Warsono

    Sekolah Darul Maza, tempat guru dipecat, Robiatul Adawiyah, mengajar di Bekasi. Tempo/Adi Warsono

    TEMPO.CO, Bekasi - Dinas Pendidikan Kota Bekasi siap membantu guru dipecat karena pilih Ridwan Kamil dan Rahmat Effendi untuk mencari pekerjaan di lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzie, mengatakan Bekasi masih kekurangan tenaga guru. 

    Kemarin, Dinas Pendidikan Kota Bekasi meminta keterangan dari guru SDIT Darul Maza, Robiatul Adawiyah, 28 tahun, terkait kasus pemecatannya yang viral di media sosial.

    Robiatul dipecat oleh seorang pengurus Yayasan Daarunnajaat Maza, induk SDIT Darul Maza, karena berbeda pilihan dalam pilkada wali kota Bekasi dan gubernur Jawa Barat.

    Baca: Penjelasan Yayasan Soal Guru Dipecat karena Pilih Ridwan Kamil

    Selain Robiatul, instansi ini juga memanggil Ketua Yayasan Daarunnajaat Maza, Gunawan Subianto, dan pengurus yang memecat Robiatul lewat percakapan di grup Whatsapp. 

    "Masalah ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzie, Senin, 2 Juli 2018.

    Ketua Yayasan Daarunnajaat Maza Gunawan Subianto klarifikasi soal guru dipecat, Robiatul Adawiyah, kepada Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Senin 2 Juli 2018. Tempo/Adi Warsono

    Ali Fauzie mengatakan, instansinya telah mendengarkan keterangan dari pihak terkait mulai dari Yayasan Daarunnajaat Maza, guru bersangkutan, dan seorang pengurus yang dianggap oleh si guru melakukan pemberhentian secara sepihak.

    "Kalau dari yayasan tidak ada pemecatan," kata dia.

    Baca: Main Pecat Guru Usai Pilkada, Begini Nasib Sang Pengurus Yayasan

    Adapun, ungkapan seorang pengurus yayasan yang menjurus kepada pemecatan adalah ungkapan pribadi, bukan pernyataan resmi atau mewakili yayasan.

    Percakapan di dalam grup whatsapp itu lalu viral karena salinan layar diunggah di media sosial facebook. "Dari yayasan juga tidak mengarahkan memilih A atau B di Pilkada," kata dia.

    Karena sejatinya menurut Ali, lembaga pendidikan tak diperbolehkan terlibat politik praktis. Meski demikian, ujar Ali, guru bersangkutan tetap memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan yayasan.

    "Padahal pihak yayasan membuka diri, tapi menyangkut keinginan guru tidak mau," kata dia.

    Baca: Main Pecat Guru Usai Pilkada, Begini Nasib Sang Pengurus Yayasan

    Menurut Fauzie, jika Robia ingin tetap mengabdi di pendidikan, instansinya mempunyai inisiatif mencarikan lembaga pendidikan baik di negeri atau swasta.

    Sebabnya, tenaga pendidik di Kota Bekasi mengalami kekurangan. "Kebutuhan masih banyak, tidak masalah sepanjang guru ini ingin mengabdi," ujar dia.

    Guru dipecat, Robiatul Adawiyah, menyambut baik rencana dari dinas pendidikan dan yayasan. Namun, Robiatul menyatakan masih ingin berpikir lebih dulu. "Tetap ingin menjadi guru," kata Robiatul di Kantor Dinas Pendidikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.