DKI Juara Umum MTQ Nasional, Anies Baswedan Bagi Bonus Miliaran

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memberi sambutan dalam acara Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memberi sambutan dalam acara Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan bonus dengan total miliaran rupiah kepada pemenang lomba MTQ Nasional 2018. Bonus itu diberikan kepada peserta yang meraih mendali emas, perak, dan perunggu di ajang tersebut. 

    Baca: DKI Heran Truk Boleh Melintas Era Ahok, Tapi Dicegat di Era Anies

    Kafilah DKI meraih juara umum pada ajang itu dengan perolehan medali 10 emas, 3 perak, dan 5 perunggu.

    "Bonusnya masing-masing Rp100 juta, Rp70 juta, dan Rp50 juta," ujar Anies Baswedan di Balai Kota, Kamis, 18 Oktober 2018. Sehingga total bonus yang diberikan DKI Jakarta mencapai Rp 1,460 miliar. 

    Anies mengatakan uang bonus tersebut akan digunakan sebagai pengembangan kegiatan dan pelatihan para peserta. Ia berharap prestasi tersebut dapat dipertahankan hingga MTQ Nasional selanjutnya. 

    "Sudah jadi juara umum dua kali berturut-turut, semoga bisa hatttrick yang ketiga," ujar Anies.

    Pada 12 Oktober 2018, perhelatan lomba MTQ Nasional selesai digelar di Medan, Sumatera Utara. Provinsi DKI Jakarta sukses menyabet gelar juara umum di lomba yang telah dimulai sejak 7 Oktober 2018. 

    Dalam perlombaan itu, tilawah Al Quran dengan berbagai cabang dilombakan. Seperti misalnya qari, qariah, tartil, dan murattil. 

    Baca: Anies Baswedan Akui DP Nol Rupiah Bukan untuk Rakyat Miskin

    Anies Baswedan mengatakan kunci kafilah DKI Jakarta bisa menjadi juara umum MTQ karena sistem meritokrasi dalam perekrutan peserta. Menurut Anies, dengan sistem tersebut kesempatan untuk semua kalangan mengikuti lomba level nasional tersebut lebih besar, karena seleksinya berdasarkan kemampuan. "Sistem ini yang semoga selalu diterapkan di Jakarta," ujar Anies. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.