Genset Dekat Panggung Utama Reuni Akbar 212 Meledak

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan peserta Reuni Akbar 212 mengantre ingin masuk ke dalam area Monumen Nasional, Jakarta Pusat, 1 Desember 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Ratusan peserta Reuni Akbar 212 mengantre ingin masuk ke dalam area Monumen Nasional, Jakarta Pusat, 1 Desember 2018. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ledakan terjadi di sekitar panggung utama Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu malam 1 Desember 2018. Diduga ledakan berasal dari mesin generator listrik (genset) yang berada di belakang panggung utama di sisi Barat Monas.

    Baca berita sebelumnya:
    Kisah Peserta Reuni Akbar 212: Cuti Kerja dan Gadaikan Motor

    "Barang buktinya sudah dievakuasi," kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Roma Hutajulu saat dihubungi, Sabtu malam 1 Desember 2018.

    Roma menerangkan, ledakan terjadi sekitar Pukul 19.20 WIB. Suaranya cukup keras namun tak sampai menimbulkan korban. Saat ini, dia menambahkan, polisi masih menyelidiki penyebab ledakan tersebut.

    "Kami juga sedang periksa beberapa saksi yang mengetahui ledakan itu," kata Roma.

    Panggung utama acara Reuni Akbar 212 telah didirikan di sisi Barat Monumen Nasional, 1 Desember 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Kepala Kepolisian Sektor Gambir Ajun komisaris Besar Johaness mengatakan genset meledak diduga karena korsleting. "Tapi masih diselidiki," katanya sambil menambahkan pula, "Ada handphone di genset tersebut."

    Baca berita sebelumnya:
    Reuni Akbar 212, Polisi Bagi 5 Zona Rekayasa Lalu Lintas

    Reuni Akbar 212 rencananya akan digelar di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Minggu 2 Desember 2018. Rangkaian acaranya akan digelar mulai dini hari. Sebagian pesertanya juga sudah berdatangan.

    "Hari ini panggung dan sound sistemnya sudah siap," kata Penanggung Jawab Reuni Akbar 212 Slamet Maarif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.