Busa di Kali Sentiong, Anies akan Batasi Pemakaian Detergen Keras

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penduduk melihat kumpulan busa yang memenuhi Kali Item di kawasan Kemayoran, Jakarta, Selasa, 1 Januari 2019. ANTARA

    Penduduk melihat kumpulan busa yang memenuhi Kali Item di kawasan Kemayoran, Jakarta, Selasa, 1 Januari 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menduga detergen keras atau hard detergen, yang banyak digunakan di rumah tangga sebagai penyebab utama munculnya busa tebal seperti salju di Kali Sentiong atau Kali Item, Sunter, Jakarta Utara. Karena itu, dia berencana membatasi penggunaan deterjen keras di Jakarta.

    "Saya akan mengatur untuk bisa bicara dengan Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, agar ada regulasi yg lebih baik untuk detergen di indonesia," kata Anies di Sunter, Jakarta Utara, Rabu, 2 Januari 2019.

    Baca: Anies Sebut Busa di Kali Sentiong Akibat Detergen

    Anies menjelaskan nantinya regulasi soal detergen akan menjadi solusi pengendalian lingkungan di tingkat hulu. Ia mengatakan jika Pemprov DKI hanya berusaha menyelesaikan masalah busa di hilir, maka limbah busa Kali Item tak akan pernah selesai. "Kalau tak ada regulasi, kami bekerja di hilirnya saja, di pengolahan air limbahnya," kata dia.

    Kondisi Kali Item yang dipenuhi busa sempat viral di media sosial. Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @jktinfo memperlihatkan permukaan kali yang dipenuhi busa mirip salju. Unggahan itu ramai dibicarakan warganet.

    Baca: Busa di Kali Sentiong, UPK Badan Air: Karena Penyedotan Air Waduk

    Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan di negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, sudah tak lagi menggunakan detergen keras. Masyarakat di kedua negara itu saat ini menggunakan detergen lembut atau soft detergen. "Di negara lain banyak deterjen dan busanya tidak menghasilkan zat aditif yang dapat menyebabkan masalah lingkungan," kata dia.

    Soal dampak busa tersebut kepada manusia, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI, Andono Warih, mengatakan busa di Kali Sentiong tersebut tak berbahaya, selama tidak dikonsumsi oleh manusia. Tetapi ia memastikan busa itu memiliki dampak pada kehidupan biota di sungai, seperti misalnya ikan dan tumbuhan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.