Kota Tangerang Kebut Proyek Pusat Pengendalian Banjir

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga beraktivitas di Sungai Cisadane yang mulai mengering di kawasan Pintu Air 10, Tangerang, Banten, Kamis, 23 Agustus 2018. Kekeringan yang melanda Sungai Cisadane sejak satu bulan ini disebabkan oleh tidak adanya hujan yang turun di wilayah Tangerang dan berkurangnya debit air kiriman dari Bogor. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    Warga beraktivitas di Sungai Cisadane yang mulai mengering di kawasan Pintu Air 10, Tangerang, Banten, Kamis, 23 Agustus 2018. Kekeringan yang melanda Sungai Cisadane sejak satu bulan ini disebabkan oleh tidak adanya hujan yang turun di wilayah Tangerang dan berkurangnya debit air kiriman dari Bogor. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Tangerang - Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang terus mengebut pengerjaan proyek peningkatan pembangunan pusat pengendalian banjir di Kota Tangerang. Pusat pengendalian banjir itu tersebar di beberapa titik sungai seperti Sungai Cisadane, Sungai Cirarab dan Sungai Angke.

    Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah mengatakan terkait pusat pengendalian banjir itu Pemkot sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Sungai Wilayah Ciliwung-Cisadane. "Koordinasi dilakukan terkait pengamanan jalur sungai yang melintas di Kota Tangerang," kata dia pada Rabu, 30 Januari 2019.

    Baca: Alasan Camat Teluknaga Minta Sungai Cisadane Dikeruk

    Arief mengatakan untuk penanganan Sungai Cisadane saat ini sedang dilakukan penurapan sepanjang tujuh kilometer. "Penurapan sudah lima kilometer yang dibangun dari total tujuh kilometer. Sisi kiri dan kanan Sungai Cisadane akan dibangun jalan dan taman," ujarnya.

    Menurut Arief, pengerjaan turap menjadi tanggungjawab Balai Besar Sungai Wilayah Ciliwung-Cisadane. Sementara pemerintah kota yang melakukan pengamanan dan pembebasan lahan.

    Selain penurapan sungai, Arief menyebut pihaknya membuat jaring sampah di bawah jembatan UNIS di Sungai Cisadane. "Kami membuat semacam jaring untuk sampah kemudian setelah sampah terjaring diangkat untuk diangkut," kata dia.

    Baca: Hari Toilet Sedunia, Ini Potret Warga Tangerang Suka BAB di Kali

    Penjaringan sampah itu penting dilakukan karena air Sungai Cisadane merupakan sumber air baku yang diolah sebagai air minum serta digunakan untuk mandi dan cuci.

    Arief mengatakan air sungai Cisadane ini adalah sumber air baku yang digunakan oleh 2 juta masyarakat Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang di wilayah pesisir Utara seperti Cadas, Sepatan dan Teluknaga.

    Terkait penataan pinggir Sungai Cisadane, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang Tatang Sutisna mengatakan rencananya sepanjang Sungai Cisadane akan dibuat water front city. "Water front city nanti menghadap ke sungai, jadi meningkatkan kualitas Sungai Cisadane untuk destinasi wisata," kata Tatang ditemui terpisah.

    Tatang juga mengatakan warga yang terdampak pembebasan lahan dipinggir Sungai Cisadane sudah pindah dengan mengantongi uang kerahiman. "Mereka ada yang pindah tempat tinggal, ada yang masih bermukim di sekitar sungai dan akan membuka usaha," kata dia.

    Ia berharap selain mendongkrak destinasi wisata, penataan Sungai Cisadane juga akan menggairahkan usaha mikro menengah di kawasan itu.

    Sementara itu untuk Sungai Cirarab, Wali Kota Tangerang mengatakan pihaknya juga telah melakukan monitoring di Pintu Air Situ Bulakan. Ia meminta agar pompa air yang sudah ada ditambah untuk mempercepat penarikan air ke Sungai Cirarab sehingga air tidak menjadi banjir.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.