Cerita Warga Kota Bogor Tetap Khusyuk Saat Ada Edaran Tolak Imlek

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Konghucu beribadah di Bio Hok Tek Tjeng Sin di Jalan Tepekong, Kebayoran Lama, saat Tahun Baru Imlek 5 Februari 2019. Tempo/Imam Hamdi

    Umat Konghucu beribadah di Bio Hok Tek Tjeng Sin di Jalan Tepekong, Kebayoran Lama, saat Tahun Baru Imlek 5 Februari 2019. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Bogor - Banyak warga di Kota Bogor tetap khusyuk melakukan aktivitasnya dalam memasuki Tahun Baru Imlek 2019 meskipun sebelumnya muncul edaran pelarangan perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

    Diantaranya adalah Ci Maya Elisa. Langkah Ci Maya Elisa, 60 tahun, mantap dan yakin saat memasuki halaman Vihara Dhanagun, Kota Bogor, Jawa Barat.

    Baca : Tahun Baru Imlek, Ini Ucapan Selamat dan Harapan Ahok

    Dengan mengenakan baju merah, Maya langsung menuju altar vihara dan melakukan serangkaian kegiatan dengan membakar beberapa batang dupa kemudian ditancapkan disebuah belanga yang telah berisi pasir dan dupa jemaah lainnya sebelum Maya.

    Ritual terakhir, maya membakar beberapa kertas kemudian dimasukkannya ke dalam tungku besar.

    “Sudah tradisi, saat imlek. Kita berdoa saja harapannya supaya selamat, murah rejeki, dan sehat nomor satu,” kata Maya usai melaksanakan peribadatan, Selasa 5 Februari 2019.

    Seruan penolakan dan pelarangan perayaan imlek sempat datang dari kelompok yang menamakan dirinya Forum Muslim Bogor (FMB).

    Pengurus vihara mengecat sejumlah ornamen Vihara di Vihara Dhanagun Kota Bogor, 29 Januari 2018. Sejumlah vihara mulai berbenah guna menyambut tahun baru Imlek 2018. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

    Dalam surat terbuka tertanggal 23 Januari 2019 yang ramai tersebar di media sosial, FMB meminta masyarakat muslim dilarang ikut merayakan serta pemerintah kota Bogor tidak boleh memfasilitasi perayaan Imlek pada 5 Februari 2019 dan Cap Go Meh 19 Februari 2019.

    “Saya sih nggak denger ya (soal pelarangan). Tapi ya biasa aja, karena kita udah tradisi tiap tahun seperti ini,” kata Maya.

    Ditempat yang sama, Pengurus Harian Vihara Dhanagun, Ayung Kusuma mengatakan, sampai saat ini umat yang beribadah di vihara tersebut masih menjalankannya dengan khusyuk tanpa gangguan. “Kalo gangguan secara fisik tidak ada, sejauh ini masih aman,” kata Ayung.

    Ayung mengatakan, sangat menyayangkan pelarangan yang pernah beredar di media sosial tersebut. Padahal, kata dia, salah satu upaya pemersatu bangsa adalah dengan pelestarian budaya. “Perayaan imlek bukan semata hanya peribadatan, namun ada budaya yang turut dilestarikan,” katanya.

    Simak pula :
    Kunjungan Saat Imlek, Anies Diberi Ikan Bandeng Oleh Warga

    “Melalui budaya kita persatukan bangsa, kalau Indonesia damai, bersatu dan kuat, maka bisa sejahtera,” lanjut Ayung.

    Lebih jauh, terkait perayaan Imlek, Ayung mengatakan, soal akidah itu keyakinan individu masing-masing, “Yang pasti Indonesia menghargai setiap perbedaan makanya semboyannya Bhineka Tunggal Ika,” demikian Ayung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.