Selasa, 17 September 2019

Dosen Geologi UI: Instalasi Gabion Batu Gamping Terumbu

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Baru beberapa hari berdiri, instalasi gabion sudah menuai pro dan kontra dari masyarakat. Meski setuju dengan pesan anti pencemaran udara, sebagian warga mempertanyakan dana pembuatan, bentuk instalasi hingga isu penggunaan terumbu karang. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Baru beberapa hari berdiri, instalasi gabion sudah menuai pro dan kontra dari masyarakat. Meski setuju dengan pesan anti pencemaran udara, sebagian warga mempertanyakan dana pembuatan, bentuk instalasi hingga isu penggunaan terumbu karang. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Dosen geologi FMIPA Universitas Indonesia (UI) Asri Oktavioni menjelaskan bahan yang digunakan dalam instalasi gabion di Bundaran HI itu bukan terumbu karang, melainkan batu gamping.

    "Setelah saya lihat, saya perhatikan ternyata itu batu. Batuan itu kita sebutkan batu gamping, batu gamping terumbu," kata Asri di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Ahad malam, 25 Agustus 2019.

    Menurut Asri, batu gamping merupakan terumbu karang yang jutaan tahun lalu ada di laut, tetapi kemudian mati dan mengalami proses geologi yang disebut mineralisasi dan kristalisasi, kemudian menjadi batu. "Posisinya pun sekarang bukan di pantai, tapi di gunung,” ujar Asri.

    “Kalau tahu penambangan di Tuban, di Lamongan, di Gresik (Jawa Timur), nah itu dia pemanfaatannya seperti itu. Dan sehari-hari pun dia dipakai untuk keramik. Kalau kalian ke mal atau ke hotel, itu kita bisa lihat dinding-dindingnya adalah batu yang sama dengan batuan ini," ujar Asri.

    "Cuma mungkin eksposurenya nggak segede gabion ini. Jadi orang-orang tidak sadar gitu, tapi sebenarnya ini batu komersial," imbuhnya.

    Asri juga menjelaskan, batu gamping telah diperjualbelikan secara bebas. "Dan nggak ada melanggar konvervasi atau melanggar ekosistem dan segala macam. Jadi ini batu biasa yang sangat-sangat umum didapatkan di toko batuanlah," kata dia.

    Ia menilai, pernyataan pemerhati lingkungan Riyanni Djangkaru bahwa batu yang dipakai pada instalasi gabion itu batu karang merupakan sesuatu yang keliru.

    "Saya sudah komunikasi dengan Mbak Riyanni. Mungkin karena beliau bidangnya di kelautan jadi yang beliau tahu adalah terumbu karang hidup. Nah awam sekali beliau tentang terumbu karang mati menjadi batu. Kurang tepat, tapi beliau sudah mau menerima masukan saya, mau belajar tentang geologi juga," katanya.

    Riyanni Djangkaru sebelumnya mengatakan, bebatuan yang disusun menjadi instalasi gabion di Bundaran HI merupakan batu karang. Riyanni menyatakan itu setelah mengeceknya langsung di Bundaran HI.

    "Pas saya dekati, kelihatan memang sebagian besar pola-pola skeleton karang itu terlihat cukup jelas. Kalau dilihat langsung, kita langsung ngeh," ujar Riyanni saat dihubungi, Sabtu, 24 Agustus 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.