Kemarau 2019, Kebakaran di Jakarta Timur 2-3 Kali Sehari

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Titik api mudah menyebar pada musim kemarau.

    Titik api mudah menyebar pada musim kemarau.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Jakarta Timur M. Anwar menghitung kebakaran terjadi di wilayahnya dua hingga tiga kali dalam sehari sepanjang kemarau 2019. "Setiap hari dua sampai tiga kasus terjadi seperti ini (kebakaran)," katanya saat meninjau tenda pengungsian di SDN Bidaracina 3, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa siang 22 Oktober 2019.

    Menurut dia kebakaran di wilayah Jakarta Timur kerap melanda kawasan padat penduduk, di antaranya Kecamatan Jatinegara. Dalam tiga pekan terakhir, kebakaran melanda Kelurahan Balimester dan Rawabunga dengan total korban kehilangan rumah sebanyak 480 jiwa.
     
    Kebakaran di Kelurahan Cawang menyebabkan 240 orang harus mengungsi dan di Kelurahan Bidaracina sebanyak 350 jiwa. Peristiwa tersebut belum termasuk kebakaran yang melanda lahan kosong akibat bakaran sampah atau ilalang kering.
     
    Anwar mengatakan empat kelurahan yang terdampak kebakaran di Jatinegara sebenarnya telah memperoleh sosialisasi bahaya kebakaran melalui Gerakan Warga Cegah Musibah Kebakaran yang bergulir sejak September 2019. "Kebakaran di kawasan padat penduduk ini kan masalahnya itu-itu saja, kalau tidak korsleting listrik, ya kebocoran tabung gas," katanya.
     
    Anwar mengatakan faktor pemicu kebakaran kali ini masih didominasi kelalaian penghuni rumah dalam mengantisipasi kebakaran. "Faktornya adalah kelalaian," katanya.
     
    Dalam kunjungan ke tempat penampungan korban kebakaran di SDN Bidaracina 3 Pagi Jalan Setia Nomor 10, Jatinegara, Anwar menyerahkan sejumlah bantuan bagi korban. "Bantuannya mulai dari peralatan sekolah, sarung, mukena, pakaian dalam dan lainnya," katanya.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.