BPPT Tak Sanggup Cegah Hujan Setiap Hari

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    Pegawai BMKG menunjukkan bagan prediksi cuaca di Kantor BMKG Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. (ANTARA/Katriana)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT), Tri Handoko Seto, mengatakan kondisi cuaca di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi selama sepekan kemarin menjadi topik pembahasan yang hangat. 

    Ia pun merasa perlu menyampaikan penjelasan kepada publik. " Ini agar beberapa kesalahan persepsi tidak terus mengambang bahkan menjadi polemik," kata Tri dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Januari 2020.

    Tri menjelaskan sejak 3 Januari 2020 BPPT menggandeng BNPB, TNI AU, dan BMKG dalam rangka operasi modifikasi cuaca. Upaya itu bertujuan mengurangi curah hujan yang ada di Jabodetabek. "Caranya dengan menjatuhkan awan-awan di atas selat Sunda dan laut Jawa sebelum masuk menjadi hujan di Jabodetabek," ujar dia.

    Meski begitu, kata Tri, Jabodetabek tetap diguyur hujan dari awan-awan yang tumbuh di daratan. Awan tersebut tak disemai oleh BB-TMC. Alasannya, tanah Jabodetabek tetap memerlukan guyuran hujan. Selain itu, Tri mengatakan, BPPT tak mampu menghilangkan hujan setiap hari.

    Tri juga menyebut ada kesalahan membaca oleh masyarakat dan ilmuwan soal imbauan yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Amerika terkait kondisi cuaca Jakarta pada 6-12 Januari. Imbauan yang tertulis sebagai "unusual heavy rainfall" diartikan sebagai hujan ekstrem. "Padahal warning itu juga senada dengan prakiraan BMKG," kata Tri.

    Menurut Tri, memprediksi cuaca di Indonesia tak mudah lantaran sinyal perubahan cuaca di ekuator tak cukup jelas. Global Forecast System yang menjadi acuan banyak model prediksi hujan di Indonesia, kata Tri, bahkan tak bisa memprediksi hujan dalam beberapa pekan terakhir.

    Mereka meleset saat memprediksi curah hujan saat pergantian tahun di Indonesia. "Curah hujan di Jabodetabek 27 Des - 2 Jan diprediksi 101 mm. Tapi nyatanya 207 mm. Bahkan curah hujan di Halim Perdanakusuma akhir tahun 2019 yang terukur 377 mm itu diprediksi GFS "hanya" kurang dari 30 mm," kata Tri.

    Mengacu pada prediksi BMKG terkait puncak musim hujan pada akhir Januari hingga awal Februari, Tri menyebut BB TMC akan terus memodifikasi cuaca. Tujuannya, untuk mengurangi curah hujan penyebab banjir dan longsor, bukan menghilangkan hujan.

    ADAM PRIREZA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.