Epidemiolog: Saatnya Anies Baswedan Gerakkan Rakyat Mengerem Kasus Covid-19

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kiri), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) meninjau vaksinasi COVID-19 massal pelaku transportasi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Kamis, 10 Juni 2021. Vaksinasi massal itu digelar karena pelaku transportasi publik melakukan mobilitas dan interaksi dengan masyarakat yang tinggi sehingga berisiko terpapar COVID-19. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kiri), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) meninjau vaksinasi COVID-19 massal pelaku transportasi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Kamis, 10 Juni 2021. Vaksinasi massal itu digelar karena pelaku transportasi publik melakukan mobilitas dan interaksi dengan masyarakat yang tinggi sehingga berisiko terpapar COVID-19. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, menganggap sudah waktunya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria menggencarkan masyarakat taat protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

    Hal ini mengingat kasus Covid-19 di Ibu Kota kembali melonjak.

    "Sekarang waktunya lagi gubernur dan wakil gubernur menggerakkan semua masyarakat," kata dia saat dihubungi, Sabtu, 12 Juni 2021.

    Pandu mengingatkan disiplin masyarakat menerapkan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, harus ditingkatkan. Sebab, tutur dia, perilaku manusialah yang dapat menghentikan penularan Covid-19.

    ADVERTISEMENT

    "Satu-satunya cara untuk menghentikan penularan adalah perilaku," ujar dia.

    Dia menilai masyarakat kini mulai merasa tak sedang menghadapi pandemi Covid-19. Padahal, varian baru virus corona sudah bermunculan. World Health Organization (WHO) bahkan telah memberi nama untuk 10 varian baru.

    "Virusnya sekarang akan lebih ganas, lebih mudah menular, mungkin akan lebih meningkatkan juga kematian," tutur epidemiolog UI itu.

    Peningkatan kasus yang terjadi saat ini, Pandu Riono melanjutkan, sangat dipengaruhi perilaku manusia. Di Jakarta, lonjakan kasus terjadi empat hari berturut-turut.

    Pada 9 Juni ada penambahan 1.371 kasus. Kemudian naik menjadi 2.096 kasus (10 Juni), 2.293 kasus (11 Juni), dan 2.455 kasus (12 Juni). Jadi saatnya Anies Baswedan lebih sigap bertindak.

    Baca juga : Kasus Covid-19 di DKI Melonjak Terus, Hari Ini Tambah 2.455

    #Jagajarak
    #Cucitangan
    #Pakaimasker


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.