Penembakan di Melawai, Polisi Sebut Tak Ada Kaitan dengan Kepala BIN

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penembakan. annahar.com

    Ilustrasi penembakan. annahar.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Metro Jakarta Jakarta Selatan Komisaris Besar Azis Andriansyah memastikan penembakan misterius yang terjadi di Melawai pada Sabtu lalu tak ada hubungannya dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan alias BG.

    "Enggak ada, enggak ada kaitannya sama sekali (dengan BG)," ujar Aziz saat dikonfirmasi, Selasa, 22 Juni 2021. 

    Sebelumnya terjadi penembakan di kawasan perumahan perwira tinggi Polri di Jalan Profesor Joko Sutono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kepala BIN Budi Gunawan diketahui menghuni salah satu rumah di kawasan tersebut.

    Aziz mengatakan pihaknya sampai saat ini masih mengejar pelaku penembakan tersebut. Penyidik terus menyisir CCTV di lokasi kejadian untuk menemukan identitas kendaraan pelaku. 

    ADVERTISEMENT

    Sampai saat ini, Aziz mengatakan pihaknya baru mengetahui jenis mobil yang digunakan pelaku saja. "(Plat kendaraan) belum ketahuan, pelaku masih kami kejar," ujar Aziz.

    Sebelumnya, video aksi bak koboi yang dilakukan oleh pengendara mobil di lampu lalu lintas Jalan Profesor Joko Sutono, Kelurahan Melawai, Jakarta Selatan beredar di media sosial. Pengendara melepaskan tembakan sebanyak dua kali pada Sabtu malam pekan lalu.

     Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Pihak kepolisian sudah memeriksa 10 CCTV di lokasi, namun hanya dua yang berfungsi normal. Selain itu, polisi juga telah menemukan dua selongsong peluru 9 mm yang digunakan oleh pelaku penembakan tersebut. 

    Baca juga: Begini Polisi Identifikasi Jenis Peluru Penembakan Misterius di Melawai

     

    M JULNIS FIRMANSYAH 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.