Jumat, 16 November 2018

Jokowi: Proyek Fly Over Tanah Abang Dilanjutkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proyek jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanabang dikawasan jalan Casablanca, Jakarta. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Proyek jalan layang non tol Kampung Melayu-Tanabang dikawasan jalan Casablanca, Jakarta. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan proyek jalan layang non-tol (JLNT) Tanah Abang-Kampung Melayu siap dilanjutkan. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah, kata Jokowi, sudah menyiapkan dana untuk membayarnya.

    "Akan dimulai lagi," kata Joko Widodo di Jakarta Selatan, Sabtu, 27 April 2013. Sejauh ini, kata dia, hasil rekomendasi dari tim auditor proyek fly over itu bisa dilanjutkan kembali. Sedangkan hasil resmi audit baru diketahui secara lengkap pada Mei mendatang.

    Ke depan, Gubernur akan melakukan pengawasan lebih ketat terkait dengan pengerjaan proyek-proyek. Ia berharap semua proyek yang berjalan bisa selesai sesuai jadwal. "Kalau ada penyimpangan, silakan diserahkan ke proses hukum," kata Jokowi.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan pengerjaan proyek JLNT Tanah Abang-Kampung Melayu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Manggas Rudi Siahaan, menyatakan akan menunggu hasil audit yang dilakukan oleh BPK dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan sebelum melanjutkan pengerjaan. Pihaknya siap menjalankan apa yang menjadi rekomendasi dari BPK atau BPKP.

    Pengerjaan proyek ini dimulai pada 2010 dan ditargetkan selesai pada 2012, namun hingga batas akhir belum rampung. JLNT dikerjakan dalam beberapa paket. Paket Casablanca dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan Wijaya Konstruksi, sementara paket Dr Satrio dilakukan oleh Adhi Karya. Sedangkan paket Mas Mansyur dikerjakan PT Istaka Karya dan PT Sumber Sari dengan subkontraktor PT Nindya Karya.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.