Kamis, 15 November 2018

Kisah Buruh Panci yang Kabur dan Ditangkap Tentara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas keamanan dari TNI berjaga untuk mengantisipasi penjarahan pasca terjadinya amuk massa di pabrik panci, Sepatan, Tangerang, (7/5). Pabrik ini di amuk masa karena telah menyekap dan menyiksa buruh pabrik tersebut. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas keamanan dari TNI berjaga untuk mengantisipasi penjarahan pasca terjadinya amuk massa di pabrik panci, Sepatan, Tangerang, (7/5). Pabrik ini di amuk masa karena telah menyekap dan menyiksa buruh pabrik tersebut. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Korban perbudakan buruh pabrik panci di Tangerang, Dirman mengisahkan upaya pelariannya yang gagal hingga berujung digebuki. Dirman tertangkap tak lama setelah berhasil menyelinap dari pabrik, November 2012. "Saya ditangkap oleh tentara," katanya saat ditemui Tempo Rabu, 8 Mei 2013. Kala itu, Dirman mencoba kabur pada pukul 04.00. Dia tidak bisa mengingat tanggalnya. "Yang pasti tiga hari setelah saya mulai bekerja," kata dia. (Baca: Perbudakan Buruh Dibaking Oknum TNI dan Brimob)

    Dirman mencoba kabur dengan berpura-pura mencuci tangan di halaman depan rumah Yuki Irawan, sang bos, yang sekaligus menjadi perusahaan panci tempatnya bekerja. "Saya lari saat tidak ada mandor yang memperhatikan," kata Dirman.

    Setelah berhasil keluar, Dirman sempat bersembunyi. Tidak lama berselang seorang tentara datang mengejarnya. Ketika Dirman mencoba berlari sekuatnya, ternyata warga sekitar juga ikut mengejarnya. "Saya diteriaki maling oleh tentara itu," katanya. (Baca:Buruh Panci Coba Lari Diteriaki Maling dan Digebuk)

    Dikejar warga dan tentara, Dirman ini tidak berhasil lolos. Dia terlanjur dipukuli warga karena dituduh maling. Padahal, Dirman sudah berusaha menjelaskan kalau dirinya bukan maling. Melainkan, pekerja yang ingin minggat karena tidak kerasan. Sebenarnya, setelah Dirman bercerita, warga sempat melepaskannya. Sayangnya, tentara yang ikut mengejarnya tetap menahannya. "Tangan saya diikat kebelakang," ujarnya. Dalam keadaan terikat, tentara itu membawa Dirman kembali ke dalam pabrik.

    Di pabrik, mandor dan tentara itu memukulinya bergantian di depan buruh lain. Dirman mengaku ditelanjangi dan terus dipukuli. "Kami semua dikumpulkan untuk melihat dia," kata Bagas, korban lainnya, membenarkan kisah Dirman.

    Menurut Bagas, Dirman dikurung selama sehari di kamar mandi. "Jika tidak mau bernasib seperti Dirman, kalian harus patuh," kata Bagas menirukan kata-kata mandornya.

    Toh, karena beratnya siksaan, masih banyak buruh yang mencoba kabur. Setiap ada yang kabur, semua buruh akan diinterogasi mandor dan Yuki. Dan, sambil bertanya, para buruh yang tak kabur dipukul dan dimaki.

    Penderitaan para buruh ini berakhir ketika pada Jumat 3 Mei 2013, Kepolisian Resor Kota Tanggerang menggebrek CV Cahaya Logam milik Yuki Irawan di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Sepatan. Dari penggerebekan itu ditemukan 34 buruh pabrik yang disekap dan diperlakukan tidak manusiawi. Mereka ditemukan dengan pakaian kotor dan menderita penyakit kulit. (Baca: Begini Penyekapan Buruh Pabrik Panci Terbongkar)

    RAMADHANI



    Terhangat:

    Teroris
    | E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh



    Berita Lainnya:
    PPATK: Ahmad Fathanah Bukan Penjahat Baru 
    Karena 'Demi Tuhan', Arya Wiguna Menjadi Artis 
    Ibunda Ustad Jefry Tulis Buku 'Untukmu Uje' 
    PKS Akan Serahkan Mobil Luthfi ke KPK
    Kisruh Penyitaan, Majelis Syuro PKS Gelar Rapat  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.