Tolak Film Sukarno, ARB-Bung Karno Unjuk Rasa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Taruna Merah Putih (TMP) Maruarar Sirait (kanan) bersama sutradara film Soekarno Hanung Bramantyo saat nonton bareng film Soekarno di Jakarta (20/12).  ANTARA/Dhoni Setiawan

    Ketua Taruna Merah Putih (TMP) Maruarar Sirait (kanan) bersama sutradara film Soekarno Hanung Bramantyo saat nonton bareng film Soekarno di Jakarta (20/12). ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekelompok massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu Peduli Bung Karno (ARB-Bung Karno) menggelar unjuk rasa di depan Bioskop Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa, 24 Desember 2013. Pengunjuk rasa meminta pemutaran film Sukarno dihentikan. "Cerita di dalamnya tidak sesuai dengan fakta sejarah," kata Muhtarom, koordinator aksi (lihat: Hanung Bramantyo: Film Soekarno Sesuai Sejarah).

    Menurut Muhtarom, film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu harus ditarik dari peredaran karena sejak proses pembuatannya tidak fair terhadap keluarga Sukarno. "Tuntutan kami yakni menghentikan pemutaran film Sukarno, menutup bioskop yang masih menayangkan film Sukarno, meminta sutradara film dan produser diadili karena telah merusak sejarah Indonesia, meminta para aktor dan aktris, penulis skenario, dan pihak yang terlibat dalam pembuatan film Sukarno untuk diadili," kata Muhtarom. 

    Film Sukarno telah beredar di bioskop-bioskop di tanah air sejak 9 Desember 2013. Namun, penayangan film ini digugat oleh salah satu putri Sukarno, Rachmawati Sukarnoputri. Gugatan itu didaftarkan ke Pengadilan Niaga sehari setelah film rilis. Pengadilan kemudian mengeluarkan penetapan sementara atas perkara nomor 93/Pdt.sus/Hak Cipta/2013/PN.Niaga. Jkt.Pst itu.

    Pengumuman penetapan itu pun dimuat di suatu media nasional. Dalam penetapan sementara, PT Tripar Multivision yang diwakili produser Raam Jethmal Punjabi dan sutradara Hanung Bramantyo harus menyerahkan master film dan naskah atau skrip pembuatan film Sukarno kepada Rachmawati. Mereka juga harus menghentikan penyiaran berisi pengumuman film yang dibintangi Ario Bayu tersebut, terutama pada skrip halaman 35. 

    Kisruh film ini berawal dari ketidakcocokan Rachmawati dengan skrip yang dibuat Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini. Juga, dengan aktor yang akan memerankan Sukarno (lihat: Alasan Rachmawati Keluar dari Film Soekarno).

    PRAGA UTAMA


    Berita lain:
    FPI Giring Seorang Perempuan ke Kantor Polisi 
    Rute Pengalihan Kendaraan Bandara Membingungkan 
    Ketua DPC Hanura Depok Mengkonsumsi Sabu
    Pekerja Pelindo II Ancam Mogok Susulan Januari
    Bogor Klaim Pembongkaran Vila Lampaui Target
    BNN: Narkotik Jenis Baru Segera Ditetapkan
    Pukul Polisi, Ketua DPC Hanura Depok Ditahan

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.