PRT Istri Jenderal yang Dianiaya Tak Boleh Ditemui  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suami terduga kasus penyekapan dan penganiayaan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang (tengah) memberi penjelasan pada wartawan tentang berita penyekapan 17 PRT  di Bogor, Jabar, Sabtu (22/2). ANTARA/Jafkhairi

    Suami terduga kasus penyekapan dan penganiayaan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Brigjen (Purn) Mangisi Situmorang (tengah) memberi penjelasan pada wartawan tentang berita penyekapan 17 PRT di Bogor, Jabar, Sabtu (22/2). ANTARA/Jafkhairi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembantu rumah tangga yang dipekerjakan di rumah milik Mutiara Situmorang, istri dari Brigadir Jenderal (Purn) Mangisi Situmorang, belum dapat ditemui oleh siapa pun. Hari Yana Sanjaya, petugas Rumah Perlindungan Trauma Centre (RPTC), mengatakan para korban saat ini baru bisa ditemui oleh penyidik Kepolisian Resor Kota Bogor dan tenaga kesehatan dari (RPTC) milik Kementerian Sosial.

    "Instruksi dari Kementerian dan Polres, mereka belum boleh ditemui siapa pun," kata Hari kepada Tempo saat ditemui di Rumah Aman, sebutan lain RPTC, kepada Tempo, Ahad, 23 Februari 2014.

    Mutiara dilaporkan oleh Yuliana Lewer, 17 tahun, salah satu dari 17 PRT yang bekerja di rumahnya. Perempuan asal Doka Timur, Kepulauan Aro, Kecamatan Aro Selatan, Ambon, itu melaporkan Mutiara atas sangkaan penganiayaan kepada ia dan rekannya. Berdasarkan informasi, belasan PRT yang bekerja di rumah milik jenderal tersebut sering mendapat perlakuan kasar. Mereka harus bekerja mulai pukul 04.00 hingga 24.00 dan harus tidur di lantai.

    Hari mengatakan sebanyak 17 pembantu rumah tangga yang diduga sebagai korban kekerasan tiba di kantornya pada pukul 17.50 WIB, 22 Februari kemarin. Mereka diantar oleh beberapa polisi dari Polresta Bogor. Berdasarkan penampakan fisik, ia berujar, tidak ada korban yang menderita luka maupun memar pada bagian tubuh.

    Mereka, Hari menjelaskan, saat ini belum mendapatkan penanganan apa pun. Mereka sedang beradaptasi dengan lingkungan baru. Masa ini, ujar dia, penting karena mereka dianggap telah mengalami ketegangan dalam beberapa waktu belakangan. "Masih santai-santai dan beradaptasi," ujarnya.

    Selain pemulihan dari trauma, Hari menjelaskan, para korban akan berlatih keterampilan tambahan sebagai bekal saat kasus ini selesai. Adapun keterampilan yang dimaksud antara lain menjahit dan memasak, serta berlatih komputer dan otomotif untuk yang pria. Ia berujar, belum ada instruksi dari Kementerian dan Kepolisian mengenai batas waktu para korban akan tinggal di Rumah Aman. "Sambil prosesnya berjalan baru dapat diputuskan," kata Hari.

    LINDA HAIRANI

    Berita terkait
    Penganiayaan Pembantu, Istri Jenderal Diperiksa Senin
    Alasan Brigjen Mangisi Punya 16 Pembantu,
    16 Pembantu di Rumah Jenderal, Bagaimana Bagi Tugasnya? 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.