KPAI: Pelaku Mengaku Korban JIS Banyak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • William James Vahey yang bergelar sarjana di bidang ilmu politik dan master di bidang pengembangan pendidikan itu kerja di JIS dari 1992 hingga 2002. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    William James Vahey yang bergelar sarjana di bidang ilmu politik dan master di bidang pengembangan pendidikan itu kerja di JIS dari 1992 hingga 2002. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Korban pelecehan seksual di JIS diduga lebih dari dua anak. "Yang melapor secara resmi memang dua, tapi dari investigasi yang dilakukan KPAI lebih dari dua," kata komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Erlinda, pada Senin, 28 April 2014, di kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

    Indikasi tersebut, kata Erlinda, berdasarkan pengakuan para tersangka yang telah ditangkap polisi. "Tersangka mengatakan lebih dari dua korban. Namun korban tersebut bukanlah yang dua korban yang sudah melapor ke KPAI," ujar Erlinda. Artinya, jika pengakuan itu benar, setidaknya ada empat siswa yang jadi korban pelecehan seksual di JIS.

    Erlinda juga mengatakan pelaku pelecehan seksual di JIS bukan cuma dari unsur petugas kebersihan, tapi juga dari unsur lainnya. Karena itu, dia mendesak pihak kepolisian melakukan tes darah terhadap semua unsur di JIS, termasuk para guru. (Baca: LPSK: Ada Pelaku Pelecehan Lain di JIS)

    Modus pelecehan seksual juga bukan hanya dilakukan di toilet. Namun Erlinda enggan mengungkapkannya saat ini. "Hasil investigasi lainnya nanti akan saya sampaikan. Anda semua nanti pasti akan terkejut," katanya.

    AMIRULLAH

    Berita Terpopuler:
    Tersangka Pelecehan di JIS Korban Sodomi Buron FBI 
    Ayah-Ibu Korban JIS Silang Pendapat
    Jakarta, Kota dengan Pertumbuhan Terpesat Sedunia
    Dua Pria Tersangka JIS Pernah Berhubungan Seks


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.