Kisah Nenek yang Mengaku Pacar Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi tiba di Balaikota Jakarta, setelah cuti untuk mengikuti pemilihan presiden, 23 Juli 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Jokowi tiba di Balaikota Jakarta, setelah cuti untuk mengikuti pemilihan presiden, 23 Juli 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Anna Christina, 78 tahun, warga Tanah Kusir, sudah lama mengidolakan figur Joko Widodo, yang memenangi pemilu presiden 2014. Ibu dari keenam orang anak ini jatuh hati pada mantan Wali Kota Solo itu sejak 2012, ketika Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Adalah kebiasaan blusukan dan kesederhanaan Jokowi--baju kemeja putih dan celana hitamnya--yang membuat sang nenek kepincut.

    Anna justru semakin bersimpati ketika Jokowi mendapat banyak cibiran dan isu-isu negatif. Kala Jokowi mengikuti pemilu presiden, terlebih lagi. Anna, yang juga berasal dari Solo, matanya tak beranjak dari layar televisi, mengikuti proses penghitungan suara di Komisi Pemilihan Umum pada 22 Juli 2014.

    "Mama tidak berhenti berdoa dan sangat khawatir Jokowi kalah," kata Fransisca Helmaria, 54 tahun, anak ketiga Anna, kepada Tempo, Rabu, 23 Juli 2014.

    Tubuh Anna yang renta tak menghalanginya berdiri di depan televisi dari mulai proses penghitungan suara pukul 11.00 WIB hingga pengumuman sang pemenang pada pukul 22.00 WIB. Sesekali ia duduk, namun tetap fokus ke layar televisi. Anna berdoa agar jagoannya menang. Menurut Fransisca, ibunya sangat khawatir jika Jokowi tidak memenangi pemilu presiden. "Tenang, Ma. Jokowi pasti menang," kata Fransisca berusaha menenangkan Anna, ibunya. (Baca: Jokowi Ajukan Mundur Sebagai Gubernur Agustus)

    Detik-detik pengumuman pemenang pemilu presiden, mata Anna makin lekat pada kotak elektronik yang menayangkan KPU. Hingga akhirnya, komisi mengumumkan Jokowi terpilih sebagai presiden baru Indonesia. Sontak Anna menangis dan berkata, "Akhirnya pacar Mama menang!"

    Kegembiraan Anna membuat Fransisca lega. Sebab, Anna pernah dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, lantaran membaca dan menonton berita tentang kampanye hitam yang ditujukan kepada sang idola. Menurut Fransisca yang pada saat itu berada di rumah ibunya, Anna pingsan karena tak dapat menahan rasa kesal dan amarah. Terutama saat muncul tudingan Jokowi sebagai PKI dan bukan umat Islam. "Keluarga kami Kristiani tapi Mama, termasuk kami, sakit ketika mendengar fitnah Jokowi bukan muslim," kata Fransisca. (Baca juga: Istri Jokowi Yakin Suaminya Jadi 'Orang Besar')

    Anna pun mondok di rumah sakit selama kurang-lebih enam hari. Dokter yang merawat menjelaskan Anna mengalami tekanan psikis akibat terlalu memikirkan hal-hal buruk yang menimpa Jokowi. Pada saat di rumah sakit pun, kondisi Anna sempat memburuk saat mendengar kabar-kabar negatif lainnya mengenai Jokowi. Keadaan Anna membaik tatkala mengetahui Jokowi telah kembali ke Tanah Air. Pada pemilu 9 Juli 2014, Anna mencoblos idolanya di kamar sakit. (Baca juga: Jokowi Selalu Telepon Sang Ibunda Tiap Hari)

    Kini, Anna sudah keluar dari rumah sakit. Senyum tak lepas dari bibirnya atas kemenangan Jokowi. Ia mendaraskan harapnya. "Tuhan, semoga Jokowi jadi presiden yang bisa mengayomi rakyat dan membuat Indonesia menjadi lebih baik," katanya. (Baca: Jokowi Terpilih, Ibunda Sujud Syukur)

    DEVY ERNIS

    Berita Lainnya:
    Hacker Cina Manipulasi Suara Golput di Pilpres?
    Prabowo Takkan Perkarakan Perolehan Suara ke MK
    ISIS Usir Orang Kristen dengan Cara Ini
    Cerita Jokowi Laris di Media Internasional
    Calon Menteri Kabinet Jokowi-JK Mulai Beredar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.