Ada Kabin Laktasi di Stasiun Jakarta Kota

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibu sedang menyusui bayi, Jakarta, 23 Januari 2003.Foto : TEMPO/ Hendra Suhara

    Ibu sedang menyusui bayi, Jakarta, 23 Januari 2003.Foto : TEMPO/ Hendra Suhara

    TEMPO.CO, Jakarta - Nur Aisyah, 28 tahun, belum mengetahui keberadaan ruang laktasi yang terdapat tak jauh dari deretan kursi ruang tunggu di Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, Jakarta Barat. Ibu dua anak ini menyusui putrinya di ruang tunggu. "Saya biasa tutupi pakai kerudung saja," ujar Nur, sambil menimang bayinya yang sedang terlelap.

    Nur belum mengetahui adanya ruang menyusui di stasiun yang hampir setiap hari dia singgahi saat pulang-pergi dari rumahnya di Tangerang Selatan itu. Menurut dia, keberadaan ruang laktasi di stasiun cukup menolong para ibu agar bisa lebih nyaman saat menyusui buah hati mereka. "Saya sudah lihat tadi di sana, tapi belum coba.”

    Keberadaan kabin laktasi di Stasiun Kota merupakan perwujudan program pengadaan sekaligus pengabdian masyarakat dari warga Departemen Arsitektur Universitas Indonesia. Menurut Kepala Hubungan Masyarakat Daerah Operasi 1 PT Kereta Api Indonesia Agus Komaruddin, kabin laktasi ada di Stasiun Kota dan Depok Baru. “Kabin laktasi tersebut dibuat 16 November lalu.”

    Kabin laktasi nonpermanen yang berada di Stasiun Kota terlihat belum bannyak dimanfaatkan para ibu menyusui. Padahal banyak terlihat ibu yang sedang menggendong sambil menyusui bayinya. Kabin laktasi dibangun dari bahan kayu dan plastik tebal. Luasnya sekitar sekitar satu meter persegi dengan tinggi hampir dua meter.

    Bagian kusen pintunya diberi sentuhan kuning cerah. Pintu kabin dilengkapi kunci, sehingga yang menggunakannya tidak akan terganggu oleh orang dari luar yang akan masuk. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah kursi plastik berwarna abu-abu dan meja kecil oranye.

    Lain halnya dengan ruang laktasi permanen yang sudah dibangun PT KAI di Stasiun Gambir dan Pasar Senen, yang lebih luas dan dilengkapi fasilitas penyejuk udara serta kulkas untuk menyimpan botol yang sudah diisi air susu pompaan ibu. "Kami ingin memberikan fasilitas untuk penumpang kereta jarak jauh. Jadi dibangun lebih dulu di stasiun yang punya perjalanan panjang,” kata Agus.

    Ibu menyusui yang berada di stasiun antarkota, menurut Agus, jelas lebih membutuhkan fasilitas tersebut untuk menyusui dan menampung air susu untuk dibawa sebagai stok sepanjang perjalanan.

    AISHA SHAIDRA

    Topik terhangat:

    Golkar Pecah | Kasus Munir | Interpelasi Jokowi | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Busyro: Menteri Susi Adalah Siti Hajar Abad Ke-21
    Militer Intimidasi Pemutaran Film Senyap di Malang
    Menkeu: Ada Pemilik Lamborghini Lolos dari Pajak  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.