Tarif Air di Jakarta Termahal Se-Asia Tenggara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas memperbaiki pipa air minum milik PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) yang bocor di Jl. Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/10). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Sejumlah petugas memperbaiki pipa air minum milik PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) yang bocor di Jl. Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/10). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Penanganan Kasus Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Muhamad Isnur mengatakan harga air di Jakarta paling mahal se- Asia Tenggara. Menurut dia, dengan tarif air sebesar Rp 7.200 per meter kubik, warga Jakarta seharusnya mendapatkan air yang bersih dan siap minum.

    "Air yang disediakan oleh Palyja dan Aetra kotor, berbau, dan debitnya rendah," ujarnya kepada Tempo di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad, 11 Januari 2015.

    Menurut dia, harga air yang harus dibayar oleh warga Jakarta tak sepadan dengan harga yang dibayar oleh penduduk Singapura. Tarif air di Singapura, Isnur menuturkan, hanya Rp 3 ribu per meter kubik. "Apalagi air di Singapura sudah bisa langsung diminum," ujarnya. (Baca:Kerja Sama dengan Palyja, DKI Bakal Rugi Rp 18 T  )

    Pagi ini, Ahad, 11 Januari 2015, masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta menggelar demonstrasi menolak kerja sama antara PT Perusahaan Air Minum Jakarta (PAM Jaya) dan PT Perusahaan Air Minum Lyonnaise Jaya (Palyja) serta PT Aetra Air Jakarta. Aksi tersebut diikuti oleh 20 orang. Sebagai bentuk penolakan, beberapa pendemo menceburkan diri ke dalam kolam di Bundaran HI dan memegang poster penolakan atas Palyja dan Aetra. 

    Kontrak perjanjian antara PAM Jaya dengan PT Palyja berlaku sejak 1997 hingga 2022. Dalam kontrak tersebut terdapat aturan PAM Jaya wajib membayar PT Palyja sebesar Rp 7.000 per meter kubik, sedangkan tarif air yang dibayar warga kepada PAM Jaya dan Palyja hanya Rp 1.000. PAM Jaya harus menanggung Rp 6.000.

    Jika tak segera mengakhiri kerja sama dengan Palyja dan Aetra, kata Isnur, pemerintah DKI akan mengalami kerugian hingga Rp 18,2 triliun pada 2022.

    Selain itu, Palyja dan Aetra, Isnur menambahkan, seharusnya sudah bisa menyediakan air bersih bagi 80 persen warga Ibu Kota. "Realitasnya, kedua perusahaan tersebut, hingga saat ini hanya bisa menyediakan air bersih bagi 40 persen penduduk Jakarta," tuturnya.

    GANGSAR PARIKESIT

    Baca juga:
    Menko Maritim Bicara Air Asia, Blackbox Ditemukan?
    Demo Charlie Hebdo, Menlu Israel Datang, Obama Ogah
    Perempuan Ini Paling Dicari Polisi Prancis
    Kapal Baruna Tangkap Ping Diduga Sinyal Black Box


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.