Banjir, Cerita Warga Merugi Rp 4 Juta per Hari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak bermain air banjir, Tanah Abang, Jakarta, 10 Februari 2015. Hujan mengguyur kota Jakarta sejak minggu malam, menyebabkan banjir di beberapa wilayah kota Jakarta. TEMPO/Subekti

    Anak-anak bermain air banjir, Tanah Abang, Jakarta, 10 Februari 2015. Hujan mengguyur kota Jakarta sejak minggu malam, menyebabkan banjir di beberapa wilayah kota Jakarta. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO , Jakarta - Kompleks perniagaan dan perumahan Greenville di Tanjung Duren, Jakarta Barat, masih terendam banjir hingga saat ini. Akibatnya, aktivitas perniagaan lumpuh total. "Selama empat hari ini saya merugi Rp 4 juta. Itu kalau dihitung berdasarkan omzet per hari," kata Sukayati, warga Greenville Blok AW 19, Jumat, 13 Februari 2015.

    Jika dalam sepekan ke depan banjir tak kunjung surut, ia mengaku kerugiannya bisa lebih dari Rp 10 juta. "Padahal saya mau membayar uang sekolah anak saya, belum memperbaiki gerobak yang lapuk karena terendam air berhari-hari," katanya. Sehari-hari ia membuka warung makan di blok AW 19.

    Timotius Tjokro Tanoebrata, yang sehari-hari mengandalkan pemasukan dari toko roti Glory, mengklaim kerugian yang dialaminya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Sebab, mesin-mesin pengaduk adonan dan oven-oven besar terendam banjir dan rusak. "Di dalam yang lebih tinggi satu meter dari permukaan saja masih terendam setengah meter," katanya.

    Per hari, minimal ia bisa mengantongi pemasukan Rp 6 juta. Jika toko rotinya tak beroperasi sepekan, ia merugi hingga Rp 10 juta. Sementara itu, ia masih harus tetap menggaji karyawan dan memperbaiki mesin kendaraan operasional. "Saya tak menyangka akan setinggi ini, jadi betul-betul tak ada persiapan," katanya.

    Timotius mengaku sudah tinggal di perumahan ini sejak 1990. "Kawasan ini mulai banjir sejak 1996," katanya. Menurut dia, ketinggian banjir semakin parah dari tahun ke tahun. "Pemerintah harus lebih gesit dalam menepati janji bikin Jakarta bebas banjir, sebab banjir begini kerugian kami luar biasa banyak," katanya.

    Kawasan niaga ini tampak jorok. Toko-toko terlihat gelap dan kumuh karena diterjang banjir yang bercampur lumpur dan sampah. Tak ada aktivitas jual-beli yang terlihat. Beberapa ruko masih tertutup rapat dengan gembok yang melingkar di rolling door. Hanya ada beberapa penghuni yang mengusir lumpur dari bagian dalam toko sambil membuang air ke luar dengan gayung, ember, dan pel.

    DINI PRAMITA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.