Soal #SaveHajiLulung, Lulung Pakai Kacamata Kuda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Dok TEMPO/Seto Wardhana

    Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Dok TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.COJakarta – Riuhnya cuitan bernada sindiran terhadap Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta Abraham Lunggana alias Lulung ditanggapi dia dengan tawa. 

    "Saya apresiasi. Mungkin ini orang-orang yang mau menyudutkan dan mendiskreditkan saya, mungkin punya konspirasi politik. Saya apresiasi saja," kata Lulung saat ditemui di ruang kerjanya di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Senin, 9 Maret 2015.

    Cuitan yang diarahkan kepada Lulung banyak berisi kalimat humor mengandung satir yang mengundang tawa dengan menggunakan tagat #SaveHajiLulung. Tagar ini muncul sejak peristiwa adu mulut antara Lulung dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam rapat mediasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Kamis pekan lalu. 

    Lulung mengaku, daripada direpotkan untuk merespons cuitan satire itu, dia memilih pakai kacamata kuda agar terus fokus soal APBD 2015.

    "Saya bukan enggak senang membaca itu, tapi dalam kapasitas saya membaca akun sosial sudah tak seimbang dan kooperatif membangun bangsa dan pencerdasan ke generasi muda," ujar Lulung.

    Nama Lulung mendadak populer di linimasa media sosial di Indonesia. Sejak Jumat, 6 Maret 2015, muncul tagar #SaveHajiLulung yang mendadak melejit dan jadi pemuncak tren topik dunia.

    Lulung mengatakan perkembangan yang terjadi di Twitter turut berpengaruh pada keluarganya. "Istri saya menangis dan meminta agar saya berhenti berkukuh soal APBD, tapi saya bilang, ini soal penegakan hukum," kata Lulung.

    Toh, Lulung mengapresiasi tren topik #SaveHajiLulung yang muncul di Twitter. "Saya berterima kasih. Saya mengapresiasi hal itu karena jadi ngetop ketiga di dunia," ujarnya. 

    Lulung mengaku mengetahui dia menjadi tren topik dari seorang stafnya. Staf itu kemudian menceritakan dinamika yang terjadi di Twitter. Lulung bahkan ditawari membuat akun dan menyaksikan sendiri hal tersebut.

    Lulung menolak tawaran itu. Alasannya, memiliki akun pribadi akan menimbulkan tekanan psikologis baginya. "Saya tak paham cara menggunakan media sosial Twitter, jadi biar Allah yang membalas," ujar Lulung.

    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.